Diposkan pada Terjemahan

(terjemahan) Ready Player One oleh Ernest Cline

Jadi, terjemahan prolog novel ini adalah proyek yang sudah lumayan lama kukerjakan, sekitar dua setengah bulan yang lalu. Proyek ini juga jadi salah satu contoh terjemahan yang kuajukan ke penerbit idaman, demi melamar menjadi penerjemah lepas.

Apa daya, mungkin belum layak, belum jodoh, atau belum takdir (apa bedanya? 😛 ), lamaranku belum ada yang tembus. Hal ini juga menjadi bahan evaluasi bagiku untuk lebih memperbaiki lagi hasil terjemahan. Semoga di masa depan, cita-citaku menjadi penerjemah lepas buku fiksi bisa terkabul, aamiin.

Bagi pembaca yang memiliki kemampuan menerjemah lebih baik dariku, jangan ragu untuk langsung mengkritik atau memberi saran hasil penerjemahan ini di komentar, ya. Tabik!


 

 

sumber: amazon.com

Judul                         : Ready Player One
Pengarang               : Ernest Cline
Penerbit                   : Random House (USA)
Genre                        : Fiksi Ilmiah dan Distopia
Tahun Terbit          : 2011
Tautan Amazon     :http://www.amazon.com/Ready-Player-One-A- Novel/dp/0307887448
Tautan Goodreads : http://www.goodreads.com/book/show/9969571-ready-player-one
Penghargaan :

1. Alex Award dari the Young Adult Library Services Association (2012)
2. Prometheus Award (2012)

Sinopsis :
Tahun 2045, realitas menjadi tempat yang menjengkelkan. Wade Watts, remaja berusia delapan belas tahun, lebih suka melarikan diri ke dunia utopis virtual bernama OASIS. Ia mendedikasikan hidup memecahkan teka-teki yang ada di dunia digital berdasarkan obsesi kreatornya pada budaya pop tahun 1980-an. Sang kreator menjanjikan harta warisannya untuk siapa pun yang sanggup memecahkan teka-teki itu.
Wade berjuang mendapatkan petunjuk pertamanya dan diserang oleh pemburu lain yang rela membunuh demi hadiah dari sang kreator. Jika ingin bertahan hidup, Wade harus memenangkan pemburuan di dunia maya tersebut dan menghadapi dunia nyatanya.

Sumber asli bahan penerjemahan dari website resmi Ready Player One, http://readyplayerone.com/excerpt1


 

Everyone my age remembers where they were and what they were doing when they first heard about the contest. I was sitting in my hideout watching cartoons when the news bulletin broke in on my video feed, announcing that James Halliday had died during the night.
Semua remaja seusiaku ingat di mana dan apa yang mereka lakukan saat pertama mendengar tentang kontes itu. Aku sedang duduk menonton film kartun di tempat persembunyianku saat buletin berita muncul di umpan videoku, mengumumkan bahwa James Halliday telah meninggal malam itu.

I’d heard of Halliday, of course. Everyone had. He was the videogame designer responsible for creating the OASIS, a massively multiplayer on- line game that had gradually evolved into the globally networked virtual reality most of humanity now used on a daily basis. The unprecedented success of the OASIS had made Halliday one of the wealthiest people in the world.
Aku pernah mendengar tentangnya, tentu saja. Semua orang pernah. Ia adalah pendesain permainan video yang bertanggung jawab menciptakan OASIS, permainan multipemain dalam jaringan luas yang perlahan berkembang menjadi realitas virtual yang terhubung secara global dan digunakan hampir seluruh umat manusia sehari-hari. Kesuksesan OASIS yang belum pernah terjadi sebelumnya ini membuat Hallyday jadi salah satu orang terkaya di dunia.

At first, I couldn’t understand why the media was making such a big deal of the billionaire’s death. After all, the people of Planet Earth had other concerns. The ongoing energy crisis. Catastrophic climate change. Widespread famine, poverty, and disease. Half a dozen wars. You know: “dogs and cats living together . . . mass hysteria!” Normally, the news- feeds didn’t interrupt everyone’s interactive sitcoms and soap operas un- less something really major had happened. Like the outbreak of some new killer virus, or another major city vanishing in a mushroom cloud. Big stuff like that. As famous as he was, Halliday’s death should have war- ranted only a brief segment on the evening news, so the unwashed masses could shake their heads in envy when the newscasters announced the obscenely large amount of money that an’s heirs.
Awalnya aku tidak mengerti alasan media membesar-besarkan kematian seorang jutawan. Lagipula, masyarakat planet Bumi punya hal lain untuk dikhawatirkan. Krisis energi yang sedang berlangsung. Bencana akibat perubahan iklim. Kelaparan, kemiskinan, dan penyakit yang tersebar luas. Setengah lusin perang. Kau tahu: “anjing dan kucing hidup berdampingan…histeria masal!” Biasanya umpan berita tidak mengganggu acara sitkom dan opera sabun tontonan orang-orang kecuali suatu hal penting telah terjadi. Seperti merebaknya virus baru mematikan, atau kota besar lain yang menghilang dalam awan berbentuk jamur yang terjadi akibat ledakan bom nuklir. Hal-hal besar seperti itu. Seterkenal apa pun ia, kematian Halliday harusnya hanya mengisi segmen singkat pada berita malam hari, sehingga masyarakat jelata bisa menggelengkan kepala karena iri saat pembawa berita mengumumkan jumlah uang yang bikin sebal untuk ahli warisnya.

But that was the rub. James Halliday had no heirs.
Namun itulah kesulitannya. James Halliday tidak punya pewaris.

He had died a sixty-seven-year-old bachelor, with no living relatives and, by most accounts, without a single friend. He’d spent the last fifteen years of his life in self-imposed isolation, during which time—if the rumors were to be believed—he’d gone completely insane.
Ia meninggal sebagai bujangan berusia enam puluh tujuh tahun, tanpa sanak saudara, dan dari beberapa catatan, tanpa teman. Ia telah menghabiskan lima belas tahun terakhir hidupnya mengurung diri, dan selama itujika rumor bisa dipercayaia benar-benar menjadi gila.

So the real jaw-dropping news that January morning, the news that had everyone from Toronto to Tokyo crapping in their cornflakes, concerned the contents of Halliday’s last will and testament, and the fate of his vast fortune.
Berita mencengangkan sesungguhnya pada pagi hari bulan Januari, berita yang membuat semua orang dari Toronto hingga Tokyo mendongkol adalah isi kehendak dan wasiat terakhir Halliday serta nasib hartanya yang berlimpah.

Halliday had prepared a short video message, along with instructions that it be released to the world media at the time of his death. He’d also ar- ranged to have a copy of the video e-mailed to every single OASIS user that same morning. I still remember hearing the familiar electronic chime when it arrived in my inbox, just a few seconds after I saw that first news bulletin.
Halliday telah menyiapkan video berisi pesan pendek, bersama dengan instruksi bahwa waktu rilis video ke media di seluruh dunia adalah saat kematiannya. Ia juga mengatur agar salinan video tersebut dikirimkan melalui surat elektronik ke setiap pengguna OASIS di pagi yang sama. Aku masih ingat mendengar suara elektronik yang familiar saat pesan itu tiba di kotak masukku, hanya beberapa detik setelah melihat buletin berita pertama itu.

His video message was actually a meticulously constructed short film titled Anorak’s Invitation. A famous eccentric, Halliday had harbored a lifelong obsession with the 1980s, the decade during which he’d been a teenager, and Anorak’s Invitation was crammed with obscure ’80s pop culture references, nearly all of which were lost on me the first time I viewed it.
Pesan video itu sebenarnya sebuah film pendek yang dibuat sangat cermat berjudul Undangan Anorak. Halliday yang terkenal eksentrik telah memendam obsesi seumur hidup pada era 1980-an, dekade masa remajanya, dan Undangan Anorak berjejal dengan referensi samar budaya pop tahun 80an. Aku tidak memahami hampir semua referensi tersebut saat pertama kali melihatnya.

The entire video was just over five minutes in length, and in the days and weeks that followed, it would become the most scrutinized piece of film in history, surpassing even the Zapruder film in the amount of pains- taking frame-by-frame analysis devoted to it. My entire generation would come to know every second of Halliday’s message by heart.
Keseluruhan video hanya berdurasi lebih dari lima menit. Berhari-hari dan berminggu-minggu setelahnya, video itu menjadi sepotong film paling dikritisi sepanjang sejarah, melampaui jumlah analisis menyakitkan frame demi frame khusus untuk film Zapruder. Semua anak di generasiku hafal setiap detik pesan Halliday di luar kepala.
. . .
Anorak’s Invitation begins with the sound of trumpets, the opening of an old song called “Dead Man’s Party.”
Undangan Anorak dimulai dengan suara trompet, pembuka sebuah lagu lama berjudul “Dead Man’s Party.”

The song plays over a dark screen for the first few seconds, until the trumpets are joined by a guitar, and that’s when Halliday appears. But he’s not a sixty-seven-year-old man, ravaged by time and illness. He looks just as he did on the cover of Time magazine back in 2014, a tall, thin, healthy man in his early forties, with unkempt hair and his trademark horn-rimmed eyeglasses. He’s also wearing the same clothing he wore in the Time cover photo: faded jeans and classic Space Invader shirt.
Lagu itu bermain di sebuah layar hitam untuk beberapa detik pertama, hingga suara gitar bergabung dengan trompet dan saat itulah Halliday muncul. Akan tetapi ia bukan pria berusia enam puluh tujuh tahun yang dimakan waktu dan penyakit. Ia terlihat sama seperti ketika menjadi sampul depan majalah Time tahun 2014, pria tinggi kurus sehat bugar di awal usia empat puluh, dengan rambut berantakan dan kacamata berbingkai tanduk khasnya. Ia juga mengenakan pakaian yang sama dengan yang dikenakannya di foto sampul majalah itu: celana jin pudar dan kaus klasik Space Invaders.

Halliday is at a high-school dance being held in a large gymnasium. He’s surrounded by teenagers whose clothing, hairstyles, and dance moves all indicate that the time period is the late 1980s.* Halliday is dancing, too— something no one ever saw him do in real life. Grinning maniacally, he spins in rapid circles, swinging his arms and head in time with the song, flawlessly cycling through several signature ’80s dance moves. But Halliday has no dance partner. He is, as the saying goes, dancing with himself.
Halliday sedang berada di pesta dansa SMA dalam gimnasium besar. Ia dikelilingi remaja-remaja dengan gaya baju, rambut, dan gerakan tari yang menunjukkan periode waktu akhir 1980-an. Halliday juga menari, sesuatu yang tidak pernah dilihat orang dilakukannya saat masih hidup. Ia berputar cepat dalam lingkaran seraya tersenyum penuh antusias, mengayunkan tangan dan kepala seirama lagu, menarikan berkali-kali beberapa gerakan khas 80an dengan sempurna. Namun ia tidak memiliki pasangan tari. Ia, seperti kata pepatah, menari dengan dirinya sendiri.

A few lines of text appear briefly at the lower left-hand corner of the screen, listing the name of the band, the song’s title, the record label, and the year of release, as if this were an old music video airing on MTV: Oingo Boingo, “Dead Man’s Party,” MCA Records, 1985.
Beberapa baris teks muncul secara singkat di pojok kiri bawah layar, menunjukkan nama band, judul lagu, label rekaman, dan tahun rilis, seperti video musik lama yang tayang di MTV: Oingo Boingo, “Dead Man’s Party,” Label Rekaman MCA, 1985.

*Careful analysis of this scene reveals that all of the teenagers behind Halliday are actually extras from various John Hughes teen films who have been digitally cut-and-pasted into the video.
Analisis cermat dari adegan ini mengungkap bahwa semua remaja di belakang Halliday sebenarnya adalah pemeran tambahan dari beberapa film remaja John Hughes yang sudah dipotong-salin secara digital ke dalam video.

When the lyrics kick in, Halliday begins to lip-synch along, still gyrating: “All dressed up with nowhere to go. Walking with a dead man over my shoulder. Don’t run away, it’s only me. . . .”
Ketika lirik lagunya menyentak, Halliday mulai ikut bernyanyi masih sambil bergoyang dan berputar: “Semua berdandan tanpa tahu tujuan. Berjalan dengan seorang mayat laki-laki di bahuku. Jangan lari, ini hanya aku…”

He abruptly stops dancing and makes a cutting motion with his right hand, silencing the music. At the same moment, the dancers and the gym- nasium behind him vanish, and the scene around him suddenly changes.
Ia tiba-tiba berhenti menari dan membuat gerakan memotong dengan tangan kanannya, menghentikan musik. Pada waktu bersamaan, para penari dan gimnasium di belakangnya lenyap, dan latar tempat di sekitarnya mendadak berubah.

Halliday now stands at the front of a funeral parlor, next to an open casket.† A second, much older Halliday lies inside the casket, his body emaciated and ravaged by cancer. Shiny quarters cover each of his eyelids.‡ The younger Halliday gazes down at the corpse of his older self with mock sadness, then turns to address the assembled mourners.§
Halliday sekarang berdiri di depan sebuah rumah duka, di samping peti mati yang terbuka. Sedetik kemudian, Halliday yang lebih tua terbaring di dalam peti mati, tubuhnya kurus dan rusak karena kanker. Koin 25 sen berkilau menutup masing-masing kelopak matanya. Halliday muda memandang ke bawah, ke arah mayat dirinya dengan kesedihan yang dibuat-buat, kemudian berbalik menghadap para pelayat.

†His surroundings are actually from a scene in the 1989 film Heathers. Halliday appears to have digitally re-created the funeral parlor set and then inserted himself into it.
Pemandangan di sekitarnya sesungguhnya adalah adegan film Heathers tahun 1989. Halliday tampaknya membuat kembali set rumah duka kemudian memasukkan dirinya sendiri ke sana.
‡High-resolution scrutiny reveals that both quarters were minted in 1984.
Pengamatan dengan resolusi tingkat tinggi menunjukkan bahwa kedua koin 25 sen itu dicetak tahun 1984.
§The mourners are actually all actors and extras from the same funeral scene in Heathers. Winona Ryder and Christian Slater are clearly visible in the audience, sitting near the back.
Para pelayat sebenarnya adalah semua aktor dan pemeran tambahan dari pemakaman yang sama dari adegan film Heathers. Winona Ryder dan Christian Slater jelas terlihat duduk di belakang di antara para pelayat.

Halliday snaps his fingers and a scroll appears in his right hand. He opens it with a flourish and it unfurls to the floor, unraveling down the aisle in front of him. He breaks the fourth wall, addressing the viewer, and begins to read. “I, James Donovan Halliday, being of sound mind and disposing memory, do hereby make, publish, and declare this instrument to be my last will and testament, hereby revoking any and all wills and codicils by me at any time heretofore made. . . .” He continues reading, faster and faster, plowing through several more paragraphs of legalese, until he’s speaking so rapidly that the words are unintelligible. Then he stops abruptly. “Forget it,” he says. “Even at that speed, it would take me a month to read the whole thing. Sad to say, I don’t have that kind of time.” He drops the scroll and it vanishes in a shower of gold dust. “Let me just give you the highlights.”
Halliday menjentikkan jari dan sebuah gulungan muncul di tangan kanannya. Ia mengembangkannya dan gulungan itu terbentang ke lantai, terurai sampai ke lorong di depannya. Ia beralih dari dunia fantasinya ke dunia nyata dengan memandang penonton dan mulai membaca. “Aku, James Donovan Halliday, berada dalam kemampuan mental dan hukum yang baik, dengan ini membuat, menerbitkan, dan menyatakan instrumen ini sebagai kehendak dan wasiat terakhirku, serta mencabut setiap dan semua kehendak dan ketentuan tambahan surat wasiat yang kubuat sebelum yang ini ditetapkan. . .” Ia terus membaca, lebih cepat dan lebih cepat beberapa paragraf bahasa hukum lagi dengan mantap, hingga ia berbicara begitu cepat sampai-sampai setiap kata tidak bisa dipahami. Kemudian ia mendadak berhenti. “Lupakan,” ujarnya. “Bahkan dengan kecepatan seperti itu, akan makan waktu sebulan membaca semuanya. Sedihnya, aku tidak punya waktu seperti itu.” Ia menjatuhkan gulungan dan benda itu menghilang dalam jutaan serbuk emas. “Mari kuberi tahu inti utama wasiatku.”

The funeral parlor vanishes, and the scene changes once again. Hal- liday now stands in front of an immense bank vault door. “My entire es- tate, including a controlling share of stock in my company, Gregarious Simulation Systems, is to be placed in escrow until such time as a single condition I have set forth in my will is met. The first individual to meet that condition will inherit my entire fortune, currently valued in excess of two hundred and forty billion dollars.”
Rumah duka itu lenyap dan latar tempat di sekitar Halliday berubah lagi. Ia sekarang berdiri di depan sebuah pintu lemari besi bank yang sangat besar. “Seluruh hartaku, termasuk saham pengendali di perusahaanku, Gregarious Simulation Systems, akan ditempatkan di tangan pihak ketiga hingga waktu tertentu sampai suatu syarat yang sudah kusertakan di wasiatku terpenuhi. Orang pertama yang memenuhi syarat tersebut akan mewarisi semua hartaku yang saat ini bernilai lebih dari dua ratus empat puluh juta dolar.”

The vault door swings open and Halliday walks inside. The interior of the vault is enormous, and it contains a huge stack of gold bars, roughly the size of a large house. “Here’s the dough I’m putting up for grabs,” Halliday says, grinning broadly. “What the hell. You can’t take it with you, right?”
Pintu lemari besi berayun terbuka dan Halliday masuk ke dalamnya. Bagian dalam ruangan itu berukuran luar biasa dan berisi setumpuk besar batang emas, kira-kira seukuran rumah yang luas. “Di sinilah uang yang akan jadi rebutan,” ucapnya dengan seringai lebar. “Apa-apaan. Kau tidak bisa membawanya bersamamu, kan?”

Halliday leans against the stack of gold bars, and the camera pulls in tight on his face. “Now, I’m sure you’re wondering, what do you have to do to get your hands on all this moolah? Well, hold your horses, kids. I’m getting to that. . . .” He pauses dramatically, his expression changing to that of a child about to reveal a very big secret.
Halliday bersandar di tumpukan emas-emas batangan dan kamera menangkap wajahnya lebih dekat. “Sekarang aku yakin kalian penasaran, apa yang akan kalian lakukan untuk mendapat semua uang ini? Well, tahan kudamu, Anak-anak. Aku hampir sampai ke penjelasannya…“ Ia berhenti dengan dramatis, ekspresinya menjadi seperti anak kecil yang akan mengungkap sebuah rahasia besar.

Halliday snaps his fingers again and the vault disappears. In the same instant, Halliday shrinks and morphs into a small boy wearing brown corduroys and a faded The Muppet Show T-shirt.* The young Halliday stands in a cluttered living room with burnt orange carpeting, wood- paneled walls, and kitschy late-’70s decor. A 21-inch Zenith television sits nearby, with an Atari 2600 game console hooked up to it.
Halliday menjentikan tangannya lagi dan lemari besi itu menghilang. Dalam waktu bersamaan, Halliday menyusut dan berubah menjadi bocah lelaki yang mengenakan celana kordorai coklat dan kaus The Muppet Show pudar. Halliday muda berdiri di tengah ruang tamu berantakan dengan karpet jingga yang sudah terbakar, dinding berpanel kayu, dan dekorasi lama ala akhir tahun 70an. Televisi Zenith 21 inci terletak di dekatnya dengan konsol mainan Atari 2600 terhubung ke sana.

*Halliday now looks exactly as he did in a schos eight years old
Halliday terlihat persis seperti dirinya saat berusia delapan tahun.

“This was the first videogame system I ever owned,” Halliday says, now in a child’s voice. “An Atari 2600. I got it for Christmas in 1979.” He plops down in front of the Atari, picks up a joystick, and begins to play. “My favorite game was this one,” he says, nodding at the TV screen, where a small square is traveling through a series of simple mazes. “It was called Adventure. Like many early videogames, Adventure was designed and programmed by just one person. But back then, Atari refused to give its programmers credit for their work, so the name of a game’s creator didn’t actually appear anywhere on the packaging.” On the TV screen, we see Halliday use a sword to slay a red dragon, although due to the game’s crude low-resolution graphics, this looks more like a square using an arrow to stab a deformed duck.
“Ini adalah sistem permainan video pertama yang pernah kumiliki,“ ungkap Halliday dengan suara anak kecil. “Sebuah Atari 2600. Kudapat saat Natal tahun 1979.” Ia menjatuhkan diri di depan Atari, mengambil sebuah tuas kendali dan mulai bermain. “Permainan favoritku adalah yang satu ini,” katanya sambil mengedik ke layar TV yang menampilkan sebuah kotak kecil yang berjalan melewati rangkaian labirin sederhana. “Permainan ini disebut Petualangan. Sama seperti permainan video dahulu, Petualangan didesain dan diprogram hanya oleh satu orang. Namun saat itu, Atari menolak memberi kredit pada para pemrogram atas karya mereka, jadi nama kreator permainan tidak muncul di mana pun pada kemasannya.” Di atas layar TV, kita menyaksikan Halliday menggunakan pedang untuk menebas seekor naga merah, meski karena grafis beresolusi rendah yang kasar dari permainan itu, adegan tadi terlihat seperti sebuah kotak menggunakan anak panah untuk menusuk bebek cacat.

“So the guy who created Adventure, a man named Warren Robinett, decided to hide his name inside the game itself. He hid a key in one of the game’s labyrinths. If you found this key, a small pixel-sized gray dot, you could use it to enter a secret room where Robinett had hidden his name.” On the TV, Halliday guides his square protagonist into the game’s secret room, where the words created by warren robinett appear in the center of the screen.
“Jadi, laki-laki pencipta Petualangan yang bernama Warren Robinett, memutuskan menyembunyikan namanya dalam permainan itu sendiri. Ia menyembunyikan sebuah kunci dalam salah satu labirin di permainan itu. Jika kau menemukan kunci ini, sebuah titik seukuran piksel kecil kelabu, kau bisa menggunakannya untuk masuk ke ruang rahasia yang digunakan Robinett untuk menyembunyikan namanya.” Di TV, Halliday menuntun protagonis berbentuk kotak masuk ke ruang rahasia dengan kata-kata “diciptakan oleh warren robinett” muncul di tengah-tengah layar.

“This,” Halliday says, pointing to the screen with genuine reverence, “was the very first videogame Easter egg. Robinett hid it in his game’s code without telling a soul, and Atari manufactured and shipped Adventure all over the world without knowing about the secret room. They didn’t find out about the Easter egg’s existence until a few months later, when kids all over the world began to discover it. I was one of those kids, and finding Robinett’s Easter egg for the first time was one of the coolest videogaming experiences of my life.”
“Ini,” ujar Halliday sambil menunjuk ke layar dengan rasa hormat yang tulus, “adalah Easter egg atau fitur tak terduga pertama dalam permainan video. Robinett menyembunyikannya di dalam kode permainan tanpa memberitahu siapa pun, dan Atari memproduksi dan mengapalkannya ke seluruh penjuru dunia tanpa mengetahui keberadaan ruang rahasia. Mereka tidak mengetahui tentang keberadaan Easter egg hingga beberapa bulan kemudian, saat semua anak-anak di dunia mulai menemukannya. Aku merupakan salah satu dari anak-anak itu, dan menemukan Easter egg Robinett untuk pertama kali adalah salah satu pengalaman bermain permainan video paling keren dalam hidupku.”

The young Halliday drops his joystick and stands. As he does, the liv- ing room fades away, and the scene shifts again. Halliday now stands in a dim cavern, where light from unseen torches flickers off the damp walls. In the same instant, Halliday’s appearance also changes once again, as he morphs into his famous OASIS avatar, Anorak—a tall, robed wizard with a slightly more handsome version of the adult Halliday’s face (minus the eyeglasses). Anorak is dressed in his trademark black robes, with his avatar’s emblem (a large calligraphic letter “A”) embroidered on each sleeve.
Halliday muda menjatuhkan tuas kendali dan berdiri. Saat ia berdiri, ruang keluarga menghilang dan latar tempat berganti lagi. Halliday sekarang berdiri di dalam gua suram. Cahaya obor tak terlihat berkelip dari dinding gua yang lembab. Pada saat bersamaan, penampilan Halliday berganti sekali lagi ketika ia berubah menjadi sosok avatar OASIS-nya yang masyhur, Anorak—penyihir tinggi berjubah dengan versi sedikit lebih tampan dari Halliday dewasa (tanpa kacamata). Anorak mengenakan jubah hitam khasnya dengan sulaman emblem avatar (kaligrafi besar huruf “A”) pada masing-masing lengan jubah.

“Before I died,” Anorak says, speaking in a much deeper voice, “I created my own Easter egg, and hid it somewhere inside my most popular videogame—the OASIS. The first person to find my Easter egg will in- herit my entire fortune.”
“Sebelum aku mati,” kata Anorak dengan suara yang lebih rendah, “Aku menciptakan Easter egg-ku sendiri dan menyembunyikannya di permainan video ciptaanku yang paling populer—OASIS. Orang pertama yang menemukannya akan mewarisi seluruh kekayaanku.”

Another dramatic pause.
Keheningan dramatis lainnya.

“The egg is well hidden. I didn’t just leave it lying under a rock some- where. I suppose you could say that it’s locked inside a safe that is buried in a secret room that lies hidden at the center of a maze located somewhere”—he reaches up to tap his right temple—“up here.
“Easter egg itu tersembunyi dengan baik. Aku tidak meninggalkannya di bawah batu di suatu tempat begitu saja. Bisa dibilang aku menguncinya di dalam peti yang terkubur di ruang rahasia. Ruang itu tersembunyi di tengah labirin yang terletak di suatu tempat”—ia menunjuk dahi kanannya—“di sini.”

“But don’t worry. I’ve left a few clues lying around to get everyone started. And here’s the first one.” Anorak makes a grand gesture with his right hand, and three keys appear, spinning slowly in the air in front of him. They appear to be made of copper, jade, and clear crystal. As the keys continue to spin, Anorak recites a piece of verse, and as he speaks each line, it appears briefly in flaming subtitles across the bottom of screen:
“Namun jangan khawatir. Aku telah meninggalkan beberapa petunjuk bertebaran agar setiap orang mulai mencari. Inilah petunjuk pertama.” Anorak membuat gerakan indah dengan tangan kanannya, dan tiga kunci muncul, berputar perlahan di udara di hadapannya. Mereka tampaknya terbuat dari tembaga, giok, dan kristal. Sementara kunci-kunci terus berputar, Anorak melafalkan sepotong sajak. Saat ia membacakan setiap baris, baris-baris itu muncul secara singkat dalam bentuk anak judul yang menyala di bawah layar:

Three hidden keys open three secret gates
Wherein the errant will be tested for worthy traits

And those with the skill to survive these straits
Will reach The End where the prize awaits

Tiga kunci tersembunyi membuka tiga gerbang rahasia
Tempat pengujian kelayakan sifat para pengembara
Barangsiapa memiliki kemampuan menyintas rintangan yang tersedia
Akan mencapai Tempat Akhir, tempat hadiah menunggu mereka

As he finishes, the jade and crystal keys vanish, leaving only the copper key, which now hangs on a chain around Anorak’s neck.
Ketika ia selesai, kunci giok dan kristal lenyap menyisakan kunci tembaga yang tergantung pada rantai di leher Anorak.

The camera follows Anorak as he turns and continues farther into the dark cavern. A few seconds later, he arrives at a pair of massive wooden doors set into the cavern’s rocky wall. These doors are banded with steel, and there are shields and dragons carved into their surfaces. “I couldn’t playtest this particular game, so I worry that I may have hidden my Easter egg a little too well. Made it too difficult to reach. I’m not sure. If that’s the case, it’s too late to change anything now. So I guess we’ll see.”
Kamera mengikuti Anorak saat ia berputar dan kembali berjalan lebih jauh menuju gua yang gelap. Beberapa detik kemudian, ia sampai di depan sepasang pintu kayu besar yang terpasang di dinding gua itu. Pintu-pintu ini dilapisi baja dan permukaannya terukir gambar perisai serta naga. “Aku tidak bisa menguji coba permainan khusus ini, jadi aku khawatir mungkin aku menyembunyikan Easter egg-ku sedikit lebih baik. Kubuat terlalu sulit untuk dijangkau. Aku tidak yakin. Jika memang begitu, sudah terlambat untuk mengubah apa pun sekarang. Jadi, kita lihat saja nanti.”

Anorak throws open the double doors, revealing an immense treasure room filled with piles of glittering gold coins and jewel-encrusted gob- lets.* Then he steps into the open doorway and turns to face the viewer, stretching out his arms to hold open the giant double doors.†
Anorak membuka pintu ganda untuk para penonton, menampilkan ruang harta karun yang sangat luas dan dipenuhi bertumpuk-tumpuk koin emas berkilauan dan piala bertatahkan permata. Lalu ia melangkah menuju ambang pintu dan membalikkan wajahnya ke arah penonton, merentangkan tangan untuk menahan pintu tetap terbuka.

*Analysis reveals dozens of curious items hidden among the mounds of treasure, most notably: several early home computers (an Apple IIe, a Commodore 64, an Atari 800XL, and a TRS-80 Color Computer 2), dozens of videogame controllers for a variety of game systems, and hundreds of polyhedral dice like those used in old tabletop role-playing games.
Analisis menunjukkan bahwa puluhan benda tersembunyi di antara gundukan harta itu umumnya adalah: beberapa komputer rumahan terdahulu (sebuah Apple Iie a Commodore 64, sebuah Atari 800XL, dan sebuah TRS-80 Komputer Warna 2, puluhan pengendali permainan video untuk berbagai macam sistem permainan, dan ribuan dadu polihedral seperti yang digunakan dalam permainan bermain peran di atas meja.
†A freeze-frame of this scene appears nearly identical to a painting by Jeff Easley that appeared on the cover of the Dungeon Master’s Guide, a Dungeons & Dragons rulebook published in 1983.
Frame membeku dari adegan ini ditampilkan mirip dengan lukisan Jeff Easley di sampul buku Dungeon Master’s Guide, buku peraturan permainan Dungeons & Dragons yang terbit tahun 1983.

“So without further ado,” Anorak announces, “let the hunt for Hal- liday’s Easter egg begin!” Then he vanishes in a flash of light, leaving the viewer to gaze through the open doorway at the glittering mounds of treasure that lay beyond.
“Jadi, tanpa banyak omong lagi,” Anorak mengumumkan, “mulailah pemburuan Easter egg Halliday!” Kemudian ia menghilang dalam kilasan cahaya, meninggalkan penonton memandang melalui ambang pintu ke arah gundukan harta berkilau yang ada di baliknya.

Then the screen fades to black.
Lalu layar berubah menjadi gelap.
. . .
At the end of the video, Halliday included a link to his personal website, which had changed drastically on the morning of his death. For over a de- cade, the only thing posted there had been a short looping animation that showed his avatar, Anorak, sitting in a medieval library, hunched over a scarred worktable, mixing potions and poring over dusty spellbooks, with a large painting of a black dragon visible on the wall behind him.
Di akhir video, Halliday menyertakan tautan ke situs web pribadinya yang telah berubah drastis pada pagi hari kematiannya. Selama satu dekade, satu-satunya yang ada di situs web-nya hanya sebuah pengulangan animasi pendek yang menampilkan Anorak, duduk di perpustakaan abad pertengahan, membungkuk di atas meja kerja penuh coretan, mencampur ramuan-ramuan dan meneliti buku mantra berdebu, dengan sebuah lukisan besar seekor naga hitam terlihat di dinding di belakangnya.

But now that animation was gone, and in its place there was a high- score list like those that used to appear in old coin-operated videogames. The list had ten numbered spots, and each displayed the initials JDH— James Donovan Halliday—followed by a score of six zeros. This high- score list quickly came to be known as “the Scoreboard.”
Namun sekarang animasi itu hilang, digantikan oleh daftar skor tinggi seperti yang biasa muncul di permainan video ding-dong. Daftar itu punya titik-titik berangka sepuluh dan masing-masingnya menayangkan inisial JDH— James Donovan Halliday—diikuti oleh sebuah skor terdiri dari enam buah angka nol. Daftar skor tinggi ini dengan cepat dikenal sebagai “Papan Skor”.

Just below the Scoreboard was an icon that looked like a small leather- bound book, which linked to a free downloadable copy of Anorak’s Al- manac, a collection of hundreds of Halliday’s undated journal entries. The Almanac was over a thousand pages long, but it contained few details about Halliday’s personal life or his day-to-day activities. Most of the entries were his stream-of-consciousness observations on various classic videogames, science-fiction and fantasy novels, movies, comic books, and ’80s pop culture, mixed with humorous diatribes denouncing everything from organized religion to diet soda.
Tepat di bawah Papan Skor ada ikon yang terlihat seperti buku kecil bersampul kulit yang terkait dengan sebuah salinan Almanak Anorak yang bisa diunduh secara bebas. Karya itu adalah kumpulan ratusan entri jurnal tanpa tanggal milik Halliday. Almanak panjangnya lebih dari seribu halaman, tetapi hanya berisi sedikit detail kehidupan pribadi Halliday atau aktivitasnya sehari-hari. Sebagian besar entri tersebut adalah hasil pengamatan dari arus kesadarannya akan berbagai permainan video klasik, novel-novel fiksi ilmiah dan fantasi, film-film, berbagai buku komik, dan kebudayaan pop tahun 1980-an yang dicampur kritikan jenaka yang mencela segala sesuatu mulai dari agama yang terorganisir sampai soda diet.

The Hunt, as the contest came to be known, quickly wove its way into global culture. Like winning the lottery, finding Halliday’s Easter egg be- came a popular fantasy among adults and children alike. It was a game anyone could play, and at first, there seemed to be no right or wrong way to play it. The only thing Anorak’s Almanac seemed to indicate was that a familiarity with Halliday’s various obsessions would be essential to finding the egg. This led to a global fascination with 1980s pop culture. Fifty years after the decade had ended, the movies, music, games, and fashions of the 1980s were all the rage once again. By 2041, spiked hair dan acid-washed jeans were back in style, and covers of hit ’80s pop songs by con temporary bands dominated the music charts. People who had actually been teenagers in the 1980s, all now approaching old age, had the strange experience of seeing the fads and fashions of their youth embraced and studied by their grandchildren.
Pemburuan, nama yang lebih dikenal untuk kontes itu, dengan cepat menjadi kebudayaan global. Seperti memenangkan undian, menemukan Easter egg Halliday menjadi fantasi populer di kalangan orang dewasa dan anak-anak. Itu merupakan permainan yang bisa dimainkan siapa pun, dan awalnya, tampaknya tidak ada cara yang benar atau salah untuk memainkannya. Satu-satunya yang ditunjukkan oleh Almanak Anorak adalah, keakraban dengan berbagai macam obsesi Halliday akan jadi hal penting untuk menemukan Easter egg. Hal ini membawa dunia menuju ketertarikan pada budaya pop tahun 1980-an. Lima puluh tahun setelah dekade tersebut berakhir, film-film, musik, permainan, dan mode busana era 1980-an digemari lagi. Mulai 2041, gaya rambut spike dan celana jin acid-washed kembali jadi tren, dan sampul album lagu-lagu pop terkenal tahun 1980-an oleh grup musik kontemporer mendominasi tangga musik. Para remaja tahun 1980-an yang sekarang menjelang usia tua, merasa aneh melihat kegemaran dan gaya pakaian masa muda mereka dianut dan dipelajari cucu-cucu mereka.

A new subculture was born, composed of the millions of people who now devoted every free moment of their lives to searching for Halliday’s egg. At first, these individuals were known simply as “egg hunters,” but this was quickly truncated to the nickname “gunters.”
Cabang kebudayaan baru pun lahir, terdiri dari jutaan orang yang mengabdikan setiap waktu bebas dalam hidup mereka untuk mencari Easter egg Halliday. Awalnya, individu-individu ini hanya dikenal sebagai “egg hunter” atau pemburu Easter egg, tetapi dengan cepat berubah menjadi “gunter.”

During the first year of the Hunt, being a gunter was highly fashion- able, and nearly every OASIS user claimed to be one.
Sepanjang tahun pertama Pemburuan, menjadi gunter membuat seseorang dianggap sangat keren, dan hampir setiap pengguna OASIS mengaku sebagai gunter.

When the first anniversary of Halliday’s death arrived, the fervor surrounding the contest began to die down. An entire year had passed and no one had found anything. Not a single key or gate. Part of the problem was the sheer size of the OASIS. It contained thousands of simulated worlds where the keys might be hidden, and it could take a gunter years to conduct a thorough search of any one of them.
Ketika tahun pertama peringatan kematian Halliday tiba, semangat yang melingkupi kontes ini mulai surut. Satu tahun telah berlalu dan tidak ada orang yang menemukan apa pun. Tidak satu kunci atau gerbang pun. Sebagian masalahnya adalah ukuran OASIS semata. OASIS terdiri dari ribuan dunia simulasi tempat kunci-kunci tersebut kemungkinan tersembunyi dan seorang gunter akan memakan waktu bertahun-tahun melakukan pencarian menyeluruh.

Despite all of the “professional” gunters who boasted on their blogs that they were getting closer to a breakthrough every day, the truth gradu- ally became apparent: No one really even knew exactly what it was they were looking for, or where to start looking for it.
Meski semua gunter “profesional” membual di blog-blog mereka bahwa setiap hari mereka semakin mendekati kemenangan, semakin lama kebenarannya menjadi jelas: Tidak seorang pun yang sungguh-sungguh mengetahui apa yang mereka cari sebenarnya, atau di mana mereka bisa mulai mencarinya.

Another year passed.
Satu tahun lagi berlalu.

And another.
Dan lagi.

Still nothing.
Tetap nihil.

The general public lost all interest in the contest. People began to as- sume it was all just an outlandish hoax perpetrated by a rich nut job. Oth- ers believed that even if the egg really did exist, no one was ever going to find it. Meanwhile, the OASIS continued to evolve and grow in popularity, protected from takeover attempts and legal challenges by the ironclad terms of Halliday’s will and the army of rabid lawyers he had tasked with administering his estate.
Masyarakat umum kehilangan minat pada kontes itu. Orang-orang mulai berasumsi semua ini hanya kebohongan aneh yang dilakukan jutawan kaya. Beberapa orang percaya bahwa meski Easter egg benar-benar ada, tidak ada yang akan menemukannya. Sementara itu, OASIS terus berkembang dan tumbuh dalam popularitas, terlindung dari usaha-usaha pengambilalihan dan tantangan-tantangan hukum dari isi wasiat Halliday yang ketat dan pasukan pengacara fanatik yang ditugaskannya untuk menata usaha kekayaannya.

Halliday’s Easter egg gradually moved into the realm of urban legend, and the ever-dwindling tribe of gunters gradually became the object of ridicule. Each year, on the anniversary of Halliday’s death, newscasters jokingly reported on their continued lack of progress. And each year, more gunters called it quits, concluding that Halliday had indeed made the egg impossible to find.
Easter egg Halliday perlahan berubah menjadi legenda kota dan kelompok gunter yang semakin berkurang jumlahnya secara bertahap menjadi objek olokan. Setiap tahun, pada hari peringatan kematian Halliday, pembawa berita melaporkan perkembangan gunter yang lambat sambil berkelakar. Setiap tahun, lebih banyak gunter yang menyerah, menyimpulkan bahwa Halliday memang menciptakan Easter egg yang mustahil ditemukan.

And another year went by.
Dan tahun lainnya berlalu.

And another.
Dan lagi.

Then, on the evening of February 11, 2045, an avatar’s name appeared at the top of the Scoreboard, for the whole world to see. After five long years, the Copper Key had finally been found, by an eighteen-year-old kid living in a trailer park on the outskirts of Oklahoma City.
Kemudian pada malam tanggal 11 Februari 2045, sebuah nama avatar muncul di atas Papan Skor, disaksikan seluruh orang di dunia. Setelah lima tahun, Kunci Tembaga akhirnya ditemukan oleh seorang bocah laki-laki berusia delapan belas tahun yang hidup di parkiran rumah gandengan di pinggir kota Oklahoma.

That kid was me.
Anak itu adalah aku.

Dozens of books, cartoons, movies, and miniseries have attempted to tell the story of everything that happened next, but every single one of them got it wrong. So I want to set the record straight, once and for all.
Berlusin-lusin buku, kartun, film, dan mini seri mencoba mengungkap cerita tentang semua yang terjadi setelah penemuan itu, tetapi tidak ada satu pun yang benar. Jadi, aku ingin meluruskan semua cerita itu, sekali dan untuk selamanya.


Gimana, seru kan prolognya? Nggak sabar ingin baca versi terjemahan sebukunya! Mudah-mudahan ada penerbit yang tertarik atau sedang dalam proses penerbitannya. Boi, novel ini juga sedang proses adaptasi layar lebar dan disutradarai Steven Spielberg, lho. Layak banget untuk diterjemahkan 🙂 *finger cross

Iklan
Diposkan pada Uncategorized

(fanfiksi) Mpret sounds more interesting than Napoleon

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti kuis Fanfiksi Supernova Bentang Pustaka 🙂


 

“Tra, udah makan?”

Deg! Telah lewat dua puluh tiga jam dari kejadian itu, saat ia “membaca” Mpret. Namun ia belum terbiasa akan gagasan bahwa pemilik suara itu memiliki ketertarikan kepadanya. Ketertarikan dari seorang pria ke wanita.

“Hmm, belum.” Agak bergetar. Tra, kamu sekarang bisa mengendalikan listrik. Masa, mengendalikan suara saja susah?

Matanya dengan canggung melirik pria itu. Kaus oblong rekan bisnisnya itu masih bisa dianggap kain lap. Mata besarnya masih mengeskpresikan otak brilian. Tetapi rasanya ada yang berbeda darinya bagi Elektra.

“Gue mau makan nasgor di tempat Mas Yono, mau ikutan?” Kedua tangan pria itu berada di dalam saku celana belelnya, menunggu jawaban Elektra.

“Boleh, deh.”

Ia lalu berjalan bersisian dengan Mpret. Ada gelenyar aneh di lengan kirinya yang kadang tak sengaja bersentuhan dengan lengan kanan entrepreneur jenius itu. Pertanda apakah ini? Kekuatan listrik terbaru? Penemuan mutakhir dari super terapis listrik Elektra Wijaya?

Selagi menatap lampu lima watt yang dipasang di gerobak Mas Yono dari kejauhan, ia terngiang akan suara Watti. “Kamu kayak gini udah ngerasa sukses, Tra? Cewek itu belum bisa dibilang sukses kalau belum nikah. Gimana? Mau lanjut nggak sama Napoleon?” Dasar Watti.

Entahlah, pikirnya. Nama Mpret terdengar lebih menarik di telinganya dibandingkan Napoleon.


Aaak, pertama kalinya bikin fanfiksi, hihi. Sekadar hiburan dari tokoh-tokoh favorit dari buku favorit di antara serial Supernova. Semoga menang, yosh!

Diposkan pada Uncategorized

Apa sih susahnya nerjemahin?

Buat orang-orang (dan saya yang dulu) yang bertanya-tanya tentang “apa susahnya, sih, menerjemah kalo lo jago bahasa Inggris?”

poppy d chusfani

Okay, rekan-rekan penerjemah sekalian, pernah dong ada yang nanya seperti ini? Baik dalam arti pertanyaan sebenarnya (benar-benar kepingin tau apa aja kendalanya) maupun dalam nada melecehkan.

Banyak orang mengira menerjemahkan adalah perkara mudah, yang penting hanya menguasai bahasa naskah yang akan diterjemahkan. Mereka semua salah besar. Misalnya naskah asli berbahasa Inggris. Siapa bilang seorang pengguna bahasa Inggris yang sudah yahud bisa menerjemahkan naskah novel? Seorang teman pernah bilang, “Apa susahnya sih? Kan lu ngerti bahasa Inggris, ya tinggal terjemahin aja, gampang kan? Lagian ini kan bukan sastra berat, buku anak-anak gitu loh!” Ini terjadi saat gue cerita ada naskah yang bujubuneng susahnya untuk diterjemahkan. Ih, gue tersinggung!

Maka, sambil kepala berasap, gue tantangin dia nerjemahin satu paragraf saja. Setelah dahinya berkerut-merut dan corat sana coret sini, akhirnya dia menyerah. Sambil tertawa bahagia gue berkata, “Mampus lu!”

Banyak pembaca (yang tentunya jago berbahasa Inggris) yang bilang, “Gak enak baca buku terjemahannya…

Lihat pos aslinya 791 kata lagi

Diposkan pada Celoteh, Novel Indonesia

(celoteh) Si Terapis Listrik dan Si Peretas Pengecoh

Seharusnya hari ini saya menuntaskan janji memberikan komentar di satu cerita karya penulis muda berbakat (menurut saya) yang terus menagih saya di sebuah situs penulisan online atau mulai mengerjakan proyek latihan terjemah bersama dua senior penerjemah lain. Namun, rasanya saya harus mengeluarkan sekarang juga kesan saya selama membaca ulang buku ini. Lagi pula, masih ada malam panjang untuk dua tugas di atas, in syaa Allah.


Warning:

Tulisan ini bukan review ataupun pembahasan buku secara keseluruhan. Ini hanya celoteh saya tentang beberapa fragmen saja dari sebuah buku. Selamat membaca 🙂

 

Buku ketiga serial Supernova, Petir. Pasti sudah banyak dong, ya, yang membacanya. Dahulu ketika SMP, saat mendengar orang menyebut-nyebutnya, saya beranggapan pasti ini buku sains canggih. Supernova gitu, lho. Mungkin saja buku mistik, dilihat dari gambar mata melotot di jendela yang mungkin juga bukan mata. Entah bagaimana imajinasi kanak-kanak saat itu menguasai saya. Maka saya takut membacanya.

Ini sampul yang bikin bocah dua belas tahun hampir ngompol. Cetakan pertama tahun 2004.

Sama seperti ketakutan yang saya rasa saat pertama melihat buku satu serial Darren Shan, Cirque du Freak, saat kelas 5 SD. Ketakutan itu belum seberapa ketika saya membaca blurp di sampul belakangnya. Sekujur tubuh merinding disko.

Sampul yang bikin merinding disko bocah sepuluh tahun.

 

Apalagi buku itu saya temukan di antara buku-buku punya tante saya yang kamarnya gelap. Serem abis. Madam Octa, hello~ siapa kira hewan arthropoda itu satu tahun kemudian akan hidup di imajinasi saya setelah memberanikan diri membaca Cirque du Freak dan membuat saya menyesal, mengapa harus takut sama sampul hitam dan gambar laba-laba merahnya, padahal cerita ini terlalu seru dilewatkan bocah seperti saya?

Oya, jangan bandingkan dengan adaptasi filmnya, ya. Lihat trailernya saja saya tidak nafsu. Mr. Crepsley sosoknya jauh dari imajinasi saya dan Darren..oh, Darren. Betapa bedanya. Untung saya tidak melihat Mr. Tiny atau Harkat Mulds atau Kurda Smahlt juga. Imajinasi saya jadi tidak terkotori.

Berbekal semangat ‘mengapa harus takut pada sampul buku’ dari pengalaman dengan Cirque du Freak itulah akhirnya saya mengunduh ebook Petir. Tidak berakhir bahagia, sih. Tulisannya jelek, hasil scan-nya buruk. Mata saya tidak tahan. Halamannya pun tidak lengkap. Masa saya tidak pernah bertemu si Kewoy di ebook itu? Ini mungkin petunjuk dari langit bahwa saya harus jadi pembaca yang baik yang menghargai penulis dengan beli karya aslinya. Alhamdulillah ada rejeki buat beli bukunya.

Oya, saya sempat ikut sejenis seminar yang mendatangkan Dee sebagai pembicara. Saat itu sedang booming buku kelima Supernova, Gelombang. Buku Gelombang saya ditandatangani Dee, dong, hehe. Sempat foto sama Dee juga. Oh, ini rasanya berfoto sama penulis terkenal ya. Itu pertama kalinya bagi saya :3

Ketika itu Dee mengatakan bahwa Petir ia tulis dengan gaya penulisan berbeda dengan KPBJ, Akar, Partikel dan Gelombang. Petir memiliki alur lebih ringan dari empat buku lain. Menggelitik dan konyol tetapi tidak melupakan detail sains dan teknologi khas Dee dan deskripsi pengaruh budaya pop pada zaman itu. Tulisan yang cenderung ringan dan kocak ini pengaruh gaya tulisan seorang penulis asing yang dibaca Dee, saya lupa namanya. Jelasnya, ia bereksperimen di buku ini, beralih dari penulisan KPBJ dan Akar yang serius,  dan menurut saya berhasil. Banyak narasi dan dialog yang bikin saya tertawa terkikik-kikik, baik itu dari isi kepala si nona terapis listrik, Elektra, maupun dari interaksinya dengan karakter lain.  Bagi saya, meski keempat buku lain memiliki daya tarik sendiri dan terlihat lebih berat, buku ini langsung jadi favorit saya di antara buku Supernova lain yang sudah saya baca (kecuali Akar. Saya belum baca Akar). Petirlah yang paling down to earth dan karakternya gampang saya kaitkan dengan kehidupan sekitar.

Hanya dua karakter yang akan saya bahas. Dimulai dari si nona terapis kita. Dia adalah anak muda sarjana ekonomi yang galau setelah ditinggal mati Dedi dan ditinggal nikah Watti ke Tembagapura. Sebatang kara mencoba peruntungan menjadi sales MLM, ditipu untuk jadi asisten dosen ilmu gaib, gadis penikmat ritual tidur dan mengaku penonton drama hidup di sekitarnya ini akhirnya menjadi juragan warnet bersama tiga sahabatnya. Di luar hidupnya yang agak ajaib, karakter Elektra sebenarnya gampang ditemui di sekitar kita. Anak introvert yang terlihat cuek tetapi bertanggung jawab, masih galau terkait masa depan (baca: karir), dan secara fisik tidak digambarkan berlebihan. Bisa jadi itu tetangga kita, sepupu, kakak, teman, atau kita sendiri sebagai pembaca. Beda dengan, ehem…Alfa Sagala di Gelombang yang menurut saya too good to be true: rupawan, cerdas, pintar main gitar, berkarisma, disukai banyak wanita. Flawless. Kekurangannya hanya ia pengidap imsomnia akut. Itu juga menurut saya bukan kekurangan suatu karakter, malah jadi bumbu penyedap karena toh imsomnianya terhubung pada kekuatannya sebagai salah satu dari tokoh sentral serial ini. Oke saya tahu ini cuma tokoh rekaan. Namun, tetap saja saya akan merasa lebih terhubung pada suatu cerita jika karakternya tidak digambarkan terlalu sempurna.

Segala keadaan karakter Elektra yang menurutnya kekuranganlah yang membuat saya jatuh cinta sama Manusia Milenium Terapis Listrik Superwija ini.

Karakter kedua, Mpret alias Toni alias tuan peretas jago yang juga pengecoh. Mata besar dengan rambut jabrik, baju kaus yang lebih mirip kain lap dan tubuh kurus agak bungkuk dengan kemampuan antarpersonal mengagumkan. Hacker sekaligus entrepreneur jenius seperti ini ada di dunia nyata, saya yakin.

Pengecoh. Di balik penampilan urakannya, mahasiswa drop-out Geologi ITB ini memiliki strategi bisnis lebih jitu dari sarjana Teknik Informatika yang pertama kali bertemu dengan Elektra. Pengecoh. Di luar 95% hidupnya yang dihabiskan untuk bergaul, membangun kerjasama bisnis dan menjadi mentor bagi rekan-rekannya yang pebisnis pemula, 5% adalah rasa sepi dan sakit tertahan yang bahkan sampai akhir Petir tidak diceritakan. Pengecoh. Di balik kaus kumalnya, tanpa harus jadi atlet dan anak band pun ia dikagumi banyak orang semasa SMA. Pengecoh. Di balik sikap cuek dan lidah tajamnya, ia adalah sosok kunci bagi Elektra dan menyimpan rasa padanya. Siap menjadi yang selalu diandalkan pertama kali olehnya.

Saya paling lemah sama tokoh pengecoh seperti ini. Dari luar bikin nyebut, di dalam ternyata hatinya selembut Hello Kitty.

*tebar-tebar bunga dengan muka sumringah, terpesona Mpret. 

Perjalanan metamorfosis gadis (yang mengaku) pemalas menjadi ahli terapi listrik dan juragan warnet ini meninggalkan kesan mendalam di tengah kesederhanaannya. Banyak pelajaran juga yang bisa dipetik dari buku ini:setiap manusia punya peran di kehidupan. Hanya saja, terkadang ia harus disadarkan oleh pertemuan dengan beberapa orang yang bisa jadi sebelumnya tidak diduga. Semangat Elektra mencari kerja dan keberaniannya mengambil risiko dalam berbisnis juga patut diacungi jempol. Hidup, Elektra Pop! Hidup, Mas Yono!

 

Beberapa penggalan kalimat dari Petir yang saya suka:

  1. “petir terjadi ketika bumi dan langit ingin menyamakan persepsi. Kalau kamu mendengar guntur di luar sana, artinya ada konflik sedang berusaha diselesaikan.” (Ibu Sati, hal. 155)
  2. “…setiap pertemuan pasti memiliki maksud yang sempurna. Untuk kamu, saya ada. Dan, untuk saya, kamu ada. Kita hadir untuk menyempurnakan satu sama lain.” (Ibu Sati lagi, hal. 216)
  3. “…Namanya juga orang diberi kelebihan, berarti ada yang ‘lebih’, kan? Sesuatu yang ‘lebih’ baru bermanfaat kalau dibagikan. Kalau tidak, ya, cuma ‘lebih’ tok. Nggak ada artinya.” (Ibu Sati juga, hal. 229)
Diposkan pada Curhat

(curhat) Mengapa Saya Menerjemah?

Semua ini ‘salah’ seorang penerjemah senior yang menerjemahkan novel The Curious Incident of the Dog in the Night-Time oleh Mark Haddon. Oya, penampakan sampul buku versi Indonesia-nya seperti ini:

sumber: penerbitkpg.com

Sebenarnya sudah sangat lama saya mengincar buku ini di salah satu toko buku langganan di Depok. Waktu itu saya belum tahu kalau ada versi terjemahannya. Lantas tiap akhir pekan, sembari melepas lelah setelah kerja, saya selalu menyempatkan diri mengintip keberadaan buku ini di rak buku-buku impor. Bukunya kecil, mungkin seukuran komik M&C, dan tipis. Untuk buku setipis itu harganya seratus ribu, cyiin. Mahal. Yah, impor, sih. Makanya tiap minggu saya ke sana hanya untuk memastikan buku itu belum dibeli orang, haha.

Pernah suatu kali saya iseng tanya sama mas-mas toko buku itu.

“Mas, ini beneran seratus ribu? Belum didiskon, kali…” Toko buku langganan saya memang terkenal suka memberi diskon sampai 15% untuk setiap buku tanpa menunggu event apapun.

“Beneran, Mbak,” jawabnya sambil tersenyum simpul. Mungkin geli ketemu orang seperti saya.

“Serius? Ini nggak salah harga? Bukan empat puluh ribu gitu, ya?” tanya saya sambil pasang poker face. Gigih, keukeuh.

“Bener, Mbak. Ini harganya sudah benar.”

Ah, akhirnya saya kembalikan bukunya ke rak dan melangkah ke luar toko itu. Setelah beberapa langkah, saya berbalik dan memandang buku itu dari jauh, seperti seorang kekasih yang melepas pergi pasangannya.

Sedih.

Memang kalau jodoh nggak akan ke mana.

Waktu itu saya iseng ke sebuah supermarket di sebuah mall di Depok. Di sana kebetulan ada tumpukan buku-buku terbitan Gramedia yang suka didiskon, biasanya memang buku-buku agak lama. Saya mulai bongkar-bongkar bagian novelnya. Eh, ada buku bersampul merah muda lucu deh, kaya warna permen karet. Pas lihat judulnya, jreng jreng, seketika itu saya percaya bahwa saya memang belum ketemu saja sama jodoh saya…

Eh.

Maksud saya, pas melihat judulnya “Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran”, saya yakin ternyata kalau jodoh sama suatu buku, emang nggak akan ke mana-mana bukunya. Pasti ketemu.

Horeee, alhamdulillah!

Harganya juga murah karena saya yakin ini terbitan lama. Akhirnya setelah membayar ke kasir, saya  tersenyum ala chesire cat di Alice in Wonderland sepanjang perjalanan pulang. Muwahahahahahahahahaha!

Buku itu langsung saya baca di kamar kos. Sebelumnya saya pernah baca ebook versi aslinya, tetapi saya menyerah. Selain bikin sakit mata, ada beberapa kata yang harus dicari di kamus dulu. Sebenarnya kalau dibaca pun, saya tahu maksud dan inti dari paragraf-paragraf di buku itu. Tetapi tentu lebih nikmat kalau saya tidak hanya tahu, tapi paham tulisan tersebut.

Lantas, saya mendapati diri terpesona sama Christoper Boone langsung dari paragraf pertama. Saya disuguhi kisah dari sudut pandang Chris yang di awal sudah terlihat sedikit berbeda dari anak-anak lain. Dia sangat menyukai pelajaran eksak, jenius, namun kesulitan mengerti perasaan dan ekspresi orang-orang di sekitarnya, dan juga kesulitan mengungkapkan perasaannya. Beberapa ciri lain diceritakan tanpa dipaksakan oleh si penulis di sini, hingga saya tahu bahwa Chris adalah anak pengidap asperger.

Gaya penulis yang jenaka dalam menceritakan cara Chris menghadapi kasus yang terjadi kemudian dan interaksinya dengan orang-orang disekitarnya ditangkap dengan sangat baik oleh sang penerjemah. Buktinya saya sangat menikmati hasil terjemahan ini dan bisa mengerti penyelesaian kasus oleh Chris dengan sudut pandangnya yang tak biasa terhadap lingkungannya. Intinya adalah, saya sangat menyukai hasil terjemahannya.

Ternyata di belakang buku ada semacam kisah penerjemahan buku ini oleh sang penerjemah, Bapak Hendarto Setiadi. Beliau mengisahkan banyaknya riset yang harus dilakukan untuk menerjemahkan buku ini. Oleh karena itu, novel yang harusnya ia terjemahkan dalam waktu dua bulan, mundur pengerjaannya menjadi empat bulan (termasuk proses revisi hasil terjemahan setelah berdiskusi dengan editor, dsb). Pemilihan judul pun dilakukan dengan saksama. Gaya bahasa penulis dalam mengungkapkan kepribadian Chris sebenarnya menjadi salah satu perhatian beliau. Menyampaikan cerita dengan sudut pandang anak berusia lima belas tahun yang cerdas namun terkadang kikuk dan bingung dalam membaca ekspresi orang lain dan menyampaikan pendapat tanpa menyinggung orang lain, itu tantangannya.

Membaca ‘curhatan’ beliau, saya baru sadar kalau tugas penerjemah itu nggak hanya tok alih bahasa dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, memerhartikan EYD, dan terkadang menyunting terjemahan sendiri. Kalau dalam kasus ini, penerjemah juga melakukan riset tentang asperger, tentang gaya penulisan si penulis, tentang bahasa penerjemahan yang enak dibaca dan sesuai dengan karakter, dan elemen-elemen yang sepintas lalu tidak terlihat namun penting bagi isi buku itu; seperti idiom dan kata-kata slang, juga kebudayaan orang Inggris dilihat dari gaya percakapannya.

Dari sana saya mulai mencari tahu tentang HPI atau Himpunan Penerjemah Indonesia yang sempat disinggung Pak Hendarto di ‘curhatan’ beliau. Nah, ini seperti efek bola salju. Setelah tahu ‘oh, ternyata ada HPI toh di Indonesia’, lalu saya juga tahu tentang kursus penerjemahan di LBI UI Salemba, tentang sertifikasi penerjemah, dsb. Saya juga mulai tahu nama penerjemah senior dan berpengalaman di Indonesia. Saya juga mulai tahu perbedaan in-house translator dengan freelance translator, buku hasil terjemahan masing-masing penerjemah tersebut, blog-blog beliau yang penuh ilmu pengetahuan baru bagi saya, dan kisah para penerjemah dengan berbagai latar belakang.

Saya juga baru paham kalau jadi penerjemah tidak harus lulusan sastra. Penerjemah buku fiksi yang saya tahu ada yang lulusan ilmu perpustakaan, arsitektur, farmasi, geologi, dan lain-lain. Hal ini juga mulai memantik semangat saya. Kata mereka, yang penting ada keinginan dan semangat untuk selalu belajar dan memperbaiki keterampilan penerjemahan.

And the rest is history.

Karena tertarik dengan dunia penerjemahan dan merasa tertantang untuk bisa menerjemahkan suatu karya fiksi sebaik Pak Hendarto Setiadi, saya menjadi penerjemah (amatir). Saya juga ingin beberapa novel bagus yang saya baca dalam bahasa Inggris, juga dibaca orang-orang dalam bahasa Indonesia sehingga lebih mudah dipahami dan menambah wawasan.

Terjun dalam dunia penerjemahan sebagai anak baru yang masih belum ada apa-apanya ini, menjadikan saya lebih menghargai penerjemah dan  bahasa Indonesia itu sendiri. Saya jadi lebih sering buka KBBI, melirik Kateglo, belajar EYD lagi, dan sebagainya. Dalam kurun waktu empat bulan ini, saya merasakan banyak perubahan dalam diri saya. Perubahan itu terutama dalam penggunaan kata dan aturan kalimat dalam bahasa Indonesia, serta bertambahnya kosa kata yang saya tahu. Saya merasa tercerahkan. Namun tidak berhenti di sana. Saya membuat blog ini, ikut pelatihan penerjemahan di latihanterjemah.wordpress.com dengan para pengampu penerjemah profesional, dan mendapat teman sesama blogger yang baru-baru ini setuju menjadi partner saya untuk saling membaca hasil terjemahan, itu semua karena Pak Hendarto.

Pak, Anda adalah penyebabnya! *menjura virtual.

Diposkan pada Terjemahan

(terjemahan) Pangeran Melarat dan Jin Pohon Ekaliptus Bagian 2 oleh Usman Malik

Below is a nonprofit Indonesian translation of The Pauper Prince and the Eucalyptus Jinn, a short story by Usman Malik. The original version can be found in this site.


Bagian 2

The princess, Gramps said, was a woman in her twenties with a touch of silver in her hair. She was lean as a sorghum broomstick, face dark and plain, but her eyes glittered as she hummed the Qaseeda Burdah Shareef and swept the wooden counter in her tea shop with a dustcloth. She had a gold nose stud that, she told her customers, was a family heirloom. Each evening after she was done serving she folded her aluminum chairs, upended the stools on the plywood table, and took a break. She’d sit down by the trunk of the towering eucalyptus outside Bhati Gate, pluck out the stud, and shine it with a mint-water-soaked rag until it gleamed like an eye.

Sang putri, kakek bercerita, adalah wanita di awal usia dua puluh dengan sentuhan perak di rambutnya. Tubuhnya ramping seperti sapu sorgum, wajahnya gelap dan biasa saja, tetapi matanya bersinar saat ia bersenandung kasidah Burdah Syarif dan mengelap lantai kayu konter kedai tehnya dengan majun. Ia memiliki cincin tindik emas di hidungnya, katanya pada pelanggan, warisan keluarga. Setiap malam setelah selesai menjamu pelanggan, ia melipat kursi-kursi aluminiumnya, membalik bangku ke atas meja berkayu lapis, dan istirahat. Ia akan duduk di dekat batang pohon ekaliptus yang menjulang di luar Gerbang Ghati, melepas cincin tindiknya, dan membuatnya bersinar dengan kain yang direndam air bercampur daun mint hingga berkilau laksana mata.

It was tradition, she said.

Itu tradisi, jelasnya.

“If it’s an heirloom, why do you wear it every day? What if you break it? What if someone sees it and decides to rob you?” Gramps asked her. He was about fourteen then and just that morning had gotten Juma pocket money and was feeling rich. He whistled as he sat sipping tea in the tree’s shade and watched steel workers, potters, calligraphers, and laborers carry their work outside their foundries and shops, grateful for the winter-softened sky.

“Jika itu warisan, mengapa kau memakainya setiap hari? Bagaimana jika kau mematahkannya? Bagaimana jika seseorang melihatnya dan merampasnya?” kakek bertanya kepadanya. Saat itu ia berusia kira-kira empat belas tahun dan pagi itu baru saja mendapat uang jajan hari Jumat dan merasa kaya. Ia bersiul selagi duduk menyesap teh di bawah bayang-bayang pohon dan melihat pekerja baja, ahli tembikar, pembuat kaligrafi, dan buruh mengangkut pekerjaan ke luar pabrik dan toko-toko mereka, menikmati langit musim dingin yang jadi lembut.

Princess Zeenat smiled and her teeth shone at him. “Nah ji. No one can steal from us. My family is protected by a jinn, you know.”

Putri Zeenat tersenyum dan giginya bersinar ke arah kakek. “Tidak, Ji. Tidak ada yang bisa mencuri dari kami. Keluargaku dilindungi jin, lho.”

This was something Gramps had heard before. A jinn protected the princess and her two sisters, a duty imposed by Akbar the Great five hundred years back. Guard and defend Mughal honor. Not a clichéd horned jinn, you understand, but a daunting, invisible entity that defied the laws of physics: it could slip in and out of time, could swap its senses, hear out of its nostrils, smell with its eyes. It could even fly like the tales of yore said.

Informasi ini pernah didengar Kakek sebelumnya. Seorang jin melindungi sang putri dan dua saudarinya, tugas yang diberikan Akbar Sang Agung lima ratus tahun lalu. Jaga dan pertahankan kehormatan Mughal. Kau tahu, dia bukan jin bertanduk yang klise, tetapi entitas menakutkan tak kasat mata yang menentang hukum fisika: dia bisa menyelinap melalui waktu, menukar indra tubuhnya, mendengar dari lubang hidungnya, mencium dari matanya. Dia bahkan bisa terbang seperti kata orang-orang di cerita zaman dahulu.

Mostly amused but occasionally uneasy, Gramps laughed when the princess told these stories. He had never really questioned the reality of her existence; lots of nawabs and princes of pre-Partition India had offspring languishing in poverty these days. An impoverished Mughal princess was conceivable.

Kakek tertawa mendengar sang putri menceritakan hal ini, sebagian besar girang, tetapi terkadang merasa gelisah.  Ia tidak pernah meragukan kebenaran eksistensi sang putri; saat ini kebanyakan para nawab* dan pangeran dari waktu sebelum Pemisahan India memiliki keturunan yang mendekam dalam kemiskinan. Putri Mughal yang miskin, bisa dibayangkan.

A custodian jinn, not so much.

Jin penjaga, tidak banyak.

Unconvinced thus, Gramps said:

Tidak yakin dengan keberadaan jin itu, Kakek bertanya:

“Where does he live?”

“Di mana ia tinggal?”

“What does he eat?”

“Apa makanannya?”

And, “If he’s invisible, how does one know he’s real?”

Dan,”Jika ia tak kasat mata, bagaimana kita tahu kalau ia nyata?”

The princess’s answers came back practiced and surreal:

Jawaban sang putri telah dilatih dan terdengar tidak nyata:

The jinn lived in the eucalyptus tree above the tea stall.

Sang jin tinggal di dalam pohon ekaliptus di atas kedai teh.

He ate angel-bread.

Dia makan roti malaikat.

He was as real as jasmine-touched breeze, as shifting temperatures, as the many spells of weather that alternately lull and shake humans in their variegated fists.

Ia nyata sebagaimana angin yang tersentuh melati, suhu yang bergeser, dan berbagai jenis cuaca yang bergantian membuai dan menggoyang manusia dalam genggaman mereka.

“Have you seen him?” Gramps fired.

“Pernahkah kau melihatnya?” serang Kakek.

“Such questions.” The Princess shook her head and laughed, her thick, long hair squirming out from under her chador. “Hai Allah, these kids.” Still tittering, she sauntered off to her counter, leaving a disgruntled Gramps scratching his head.

“Pertanyaan seperti itu.” Sang Putri menggelengkan kepada dan tertawa. Rambut lebatnya yang panjang menggeliat keluar dari bawah cadarnya. “Ya Allah, anak ini.” Ia melenggang pergi ke loketnya masih sambil mengekek, meninggalkan Kakek bersungut dan menggaruk kepala.

The existential ramifications of such a creature’s presence unsettled Gramps, but what could he do? Arguing about it was as useful as arguing about the wind jouncing the eucalyptus boughs. Especially when the neighborhood kids began to tell disturbing tales as well.

Hasil eksistensial dari keberadaan makhluk ini meresahkan Kakek, tetapi apa yang bisa dilakukannya? Berdebat tentangnya sama ‘bergunanya’ dengan mendebatkan angin yang menggoyangkan dahan pohon ekaliptus. Terutama ketika anak-anak tetangga juga mulai menceritakan kisah-kisah yang mengganggu.

Of a gnarled bat-like creature that hung upside down from the warped branches, its shadow twined around the wicker chairs and table fronting the counter. If you looked up, you saw a bird nest—just another huddle of zoysia grass and bird feathers—but then you dropped your gaze and the creature’s malignant reflection juddered and swam in the tea inside the chipped china.

Tentang makhluk mengokot mirip kelelawar yang bergantung terbalik di dahan yang melengkung. Bayangannya melingkari kursi dan meja rotan seolah-olah menyerupai loket. Jika kau melihat ke atas, kau akan menemukan sarang burunghanya sekumpulan rumput zoysia dan bulu burungnamun kemudian kau menundukkan pandangan dan bayangan ganas makhluk itu berguncang dan berenang dalam teh di cangkir cina yang retak.

“Foul face,” said one boy. “Dark and ugly and wrinkled like a fruit.”

“Wajahnya menjijikkan,” kata seorang anak laki-laki. “Hitam dan jelek dan berkerut seperti buah.”

“Sharp, crooked fangs,” said another.

“Taring-taringnya tajam dan bengkok,” kata anak lain.

“No, no, he has razor blades planted in his jaws,” said the first one quickly. “My cousin told me. That’s how he flays the skin off little kids.”

“Tidak, tidak, ada pisau cukur tertanam di rahangnya,” sela bocah pertama dengan cepat. “Sepupuku bilang kepadaku. Begitulah caranya menguliti tubuh anak-anak kecil.”

The description of the eucalyptus jinn varied seasonally. In summertime, his cheeks were scorched, his eyes red rimmed like the midday sun. Come winter, his lips were blue and his eyes misty, his touch cold like damp roots. On one thing everyone agreed: if he laid eyes on you, you were a goner.

Deskripsi tentang jin ekaliptus berbeda setiap musimnya. Pada musim panas, pipinya hangus, matanya berlingkaran merah laksana matahari saat tengah hari. Jika musim dingin tiba, bibirnya biru dan matanya redup, sentuhannya dingin seperti akar basah. Satu hal yang disetujui semua orang: jika ia menatapmu, kau terkutuk.

The lean, mean older kids nodded and shook their heads wisely.

Anak-anak yang bertubuh kurus, jahat, dan lebih tua mengangguk dan menggelengkan kepala mereka dengan bijak.

A goner.

Seseorang yang dikutuk.

The mystery continued this way, deliciously gossiped and fervently argued, until one summer day a child of ten with wild eyes and a snot-covered chin rushed into the tea stall, gabbling and crying, blood trickling from the gash in his temple. Despite several attempts by the princess and her customers, he wouldn’t be induced to tell who or what had hurt him, but his older brother, who had followed the boy inside, face scrunched with delight, declared he had last been seen pissing at the bottom of the eucalyptus.

Misteri itu berlanjut seperti ini, digosipkan dengan nyaman dan didebatkan dengan khusyuk. Hingga suatu hari di musim panas, seorang anak berusia sepuluh tahun dengan tatapan liar dan dagu berlepotan ingus berlari ke kedai teh sambil mengoceh dan menangis, darah menetes dari luka di pelipisnya. Meski beberapa upaya dilakukan oleh sang putri dan para pelanggannya, ia tetap tidak terpancing untuk mengatakan siapa atau apa yang menyakitinya. Namun kakak laki-laki yang mengikutinya ke dalam dengan wajah berkerut gembira, menyatakan ia terakhir terlihat sedang kencing di bawah pohon ekaliptus itu.

“The jinn. The jinn,” all the kids cried in unison. “A victim of the jinn’s malice.”

“Jin. Sang Jin,” semua anak laki-laki menjerit bersamaan. “Korban kemarahan sang jin.”

“No. He fell out of the tree,” a grownup said firmly. “The gash is from the fall.”

“Bukan. Dia jatuh dari atas pohon,” sahut anak yang lebih tua dengan tegas. “Luka itu karena jatuh.”

“The boy’s incurred the jinn’s wrath,” said the kids happily. “The jinn will flense the meat off his bones and crunch his marrow.”

“Perbuatannya membuat sang jin murka,” kata anak-anak lain dengan riang. “Jin itu akan mengiris daging dari tulangnya dan mengunyah sumsumnya.”

“Oh shut up,” said Princess Zeenat, feeling the boy’s cheeks, “the eucalyptus jinn doesn’t harm innocents. He’s a defender of honor and dignity,” while all the time she fretted over the boy, dabbed at his forehead with a wet cloth, and poured him a hot cup of tea.

“Oh, diamlah,” ujar Putri Zeenat sambil meraba pipi anak laki-laki itu, “jin ekaliptus tidak melukai orang yang tidak bersalah. Ia pembela kehormatan dan martabat,” sementara sepanjang waktu sang putri mencemaskan anak itu, mengusap dahinya dengan kain basah dan menuangkan teh hangat untuknya.

The princess’s sisters emerged from the doorway of their two-room shack twenty paces from the tea stall. They peered in, two teenage girls in flour-caked dopattas and rose-printed shalwar kameez, and the younger one stifled a cry when the boy turned to her, eyes shiny and vacuous with delirium, and whispered, “He says the lightning trees are dying.”

Saudari sang putri muncul dari ambang pintu gubuk berkamar dua yang berjarak dua puluh langkah dari kedai teh. Mereka mengintip, dua gadis dengan dopatta** berlumur tepung dan gamis shalwar*** bermotif mawar. Gadis paling kecil menahan tangis ketika anak laki-laki itu berbalik menghadapnya, matanya berkilat dan kosong karena bingung dan terkejut. Lantas ia berbisik, “Dia bilang pohon itu sedang sekarat.”

The princess gasped. The customers pressed in, awed and murmuring. An elderly man with betel-juice-stained teeth gripped the front of his own shirt with palsied hands and fanned his chest with it. “The jinn has overcome the child,” he said, looking profoundly at the sky beyond the stall, and chomped his tobacco paan faster.

Sang putri tersentak. Para pelanggan penasaran, tercengang dan bergumam. Seorang pria tua dengan gigi bernoda air sirih mencengkeram bagian depan bajunya dengan tangan lumpuhnya dan mengipas dadanya dengan itu. “Sang jin sudah mengatasi anak itu,” katanya sambil melihat langit di balik kedai dan mengunyah pinang dan tembakaunya lebih cepat.

The boy shuddered. He closed his eyes, breathed erratically, and behind him the shadow of the tree fell long and clawing at the ground.

Anak laki-laki itu bergidik. Ia menutup mata, bernapas tidak teratur, dan di belakangnya bayangan pohon itu jatuh memanjang dan mencakar tanah.

 

Bersambung


 

*gelar untuk lelaki muslim penguasa daerah semi-otonom di Asia Selatan yang diberikan oleh Kaisar Mughal yang sedang berkuasa.

**sejenis kain panjang yang dijadikan penutup kepala atau diselempangkan di bahu. Umumnya dipakai wanita di wilayah Asia Selatan. Di Indonesia, dopatta mirip dengan selendang.

***shalwar atau shalwar qameez adalah pakaian dari Asia Selatan. Di Indonesia berbentuk gamis. Jenisnya berupa gamis terusan dan gamis semata kaki yang dipasangkan dengan celana longgar.

Angel bread, saya terjemahkan langsung menjadi roti malaikat. Saya tidak tahu apakah ada padanan yang lebih tepat untuk frasa ini. Ketika mencari tahu di Google, angel bread banyak disebutkan dalam Injil. Roti makanan para malaikat. Ketika melihat resepnya pun, angel bread terlihat seperti roti biasa dengan bahan umum: tepung, mentega, telur, baking powder, susu. Jika mencari contoh roti terdekat yang mirip di Indonesia, saya pikir roti manis bisa mendekati (?) Namun saya tetap memakai padanan roti malaikat di sini .^.^

Diposkan pada Uncategorized

Sepuluh Hal Penting Saat Menerjemahkan Fiksi

Tips Penerjemahan dari blog Mba Bruziati 🙂

bruziati

Berkaca dari pengalaman saya beberapa waktu lalu, pengalaman yang bikin saya cukup panas-dingin karena baru pertama kali merasakan ‘berhadapan langsung’ dengan penulis yang bukunya saya terjemahkan, sepuluh poin yang dipaparkan John McGlynn dari Yayasan Lontar dalam seminar On the Road to Frankfurt: How Translations Travel yang berlangsung tanggal 24 Maret lalu di Gedung Kompas Gramedia menurut saya layak dicatat (Duh, panjang sekali kalimat ini. Tolong diedit :D)

Berikut kesepuluh hal penting tersebut:

Translate, write and rewrite — Menerjemahkan, menurut saya, bisa dibilang sama dengan menulis ulang. Itu sebabnya terjemahan fiksi yang harfiah tentu tidak enak dibaca, karena…

Pay respect to original but honor the target language — Penerjemah wajib menghormati bahasa asli tapi juga harus menghargai bahasa target. Usahakan agar naskah yang kita terjemahkan bisa terbaca seolah-olah ditulis oleh orang Indonesia sendiri, bukan disadur dari naskah asing. Hargai pula panduan-panduan yang kita miliki sebagai penerjemah bahasa Indonesia, misalnya KBBI. Tentunya dengan tetap mengindahkan…

Lihat pos aslinya 313 kata lagi

Diposkan pada Cerpen, Terjemahan

(terjemahan) Pangeran Melarat dan Jin Pohon Ekaliptus oleh Usman Malik – bagian 1

full_pauperprince
Ilustrasi oleh Victo Ngai. Sumber: http://www.tor.com/2015/04/22/the-pauper-prince-and-the-eucalyptus-jinn-usman-malik/

Below is a nonprofit Indonesian translation of The Pauper Prince and the Eucalyptus Jinn, a short story by Usman Malik. The original version can be found in this site.


“The Pauper Prince and the Eucalyptus Jinn” atau “Pangeran Melarat dan Jin Pohon Eukaliptus” oleh Usman T. Malik adalah novela fantasi tentang seorang profesor muda Pakistan pemurung yang bertumbuh dan hidup di Amerika Serikat, namun dihantui oleh kisah mistis dan ajaib yang pernah diceritakan kakeknya tentang seorang putri dan jin yang hidup di Lahore ketika sang kakek masih kecil.”

Kisah ini adalah karya Usman T. Malik yang terinspirasi dari sebuah kitab seorang tokoh sufi bernama Ibnu ‘Arabi yaitu Al Futuhat Al Makiyya, atau jika diterjemahkan menjadi Pembebasan Mekkah/Kemenangan Mekkah.


“When the Spirit World appears in a sensory Form, the Human Eye confines it. The Spiritual Entity cannot abandon that Form as long as Man continues to look at it in this special way. To escape, the Spiritual Entity manifests an Image it adopts for him, like a veil. It pretends the Image is moving in a certain direction so the Eye will follow it. At which point the Spiritual Entity escapes its confinement and disappears.

“Saat Dunia Roh muncul dalam Bentuk indrawi, Mata Manusia menepisnya. Entitas Spiritual tidak bisa mengabaikan Bentuk itu selama Manusia terus memandangnya dengan cara khusus ini. Untuk melarikan diri, Entitas Spiritual memanifestasikan sebuah Citra yang diadopsinya untuk Manusia, seperti selubung. Dia berpura-pura Citra itu bergerak ke arah tertentu sehingga sang Mata akan mengikutinya. Pada suatu titik, Entitas Spiritual kabur dari kurungannya dan menghilang.

Whoever knows this and wishes to maintain perception of the Spiritual, must not let his Eye follow this illusion.

Siapa pun yang mengetahui ini dan berharap untuk menjaga persepsi sang Spiritual, harus menjaga Matanya agar tidak mengikuti ilusi ini.

This is one of the Divine Secrets.”

Ini adalah salah satu Rahasia Ilahi.”

The Meccan Revelations by Muhiyuddin Ibn Arabi

Pembebasan Mekkah oleh Muhiyuddin Ibnu Arabi

NB: Jika ada penerjemah lain yang membaca hasil terjemahan saya tentang bagian dari Al Futuhat Al Makkiyya di atas dan menemukan kesalahan, mohon beri tahu saya, ya. Terima kasih 🙂

For fifteen years my grandfather lived next door to the Mughal princess Zeenat Begum. The princess ran a tea stall outside the walled city of Old Lahore in the shade of an ancient eucalyptus. Dozens of children from Bhati Model School rushed screaming down muddy lanes to gather at her shop, which was really just a roadside counter with a tin roof and a smattering of chairs and a table. On winter afternoons it was her steaming cardamom-and-honey tea the kids wanted; in summer it was the chilled Rooh Afza.

Selama lima belas tahun kakekku tinggal bersebelahan dengan putri kerajaan Mughal, Zeenat Begum. Sang putri mengelola sebuah kedai teh di luar kota berbenteng Old Lahore dalam bayang-bayang sebuah pohon eukaliptus kuno. Lusinan anak-anak dari Sekolah Percontohan Bhati berteriak dan berlarian ke jalan kecil berlumpur untuk berkumpul di tokonya. Kedai itu hanya terdiri dari sebuah konter di tepi jalan dengan atap timah dan beberapa kursi dan meja. Pada sore hari di musim salju, adalah seduhan teh madu campur kapulaga buatannya yang diinginkan anak-anak; pada musim panas minuman favorit itu adalah Rooh Afza dingin.

As Gramps talked, he smacked his lips and licked his fingers, remembering the sweet rosewater sharbat. He told me that the princess was so poor she had to recycle tea leaves and sharbat residue. Not from customers, of course, but from her own boiling pans—although who really knew, he said, and winked.

Sambil berbicara, kakek mendecapkan bibir dan menjilati jari-jarinya, mengingat air mawar sharbat manis yang tadi diminumnya. Ia mengatakan padaku bahwa sang putri sangat miskin sampai-sampai harus mendaur ulang daun teh dan sisa sharbat. Bukan sisa-sisa dari pelanggannya, tentu saja, namun dari panci rebusnya sendiri — meskipun tidak ada yang benar-benar tahu, ujar kakek sambil mengedip.

I didn’t believe a word of it.

Aku tidak percaya satupun kata-katanya.

“Where was her kingdom?” I said.

“Dimana letak kerajaannya?” tanyaku.

“Gone. Lost. Fallen to the British a hundred years ago,” Gramps said. “She never begged, though. Never asked anyone’s help, see?”

“Lenyap. Hilang. Jatuh ke tangan Inggris beratus-ratus tahun lalu,” jawab kakek, “Meski begitu dia tidak pernah mengemis. Tidak pernah meminta pertolongan orang lain, ‘kan?”

I was ten. We were sitting on the steps of our mobile home in Florida. It was a wet summer afternoon and rain hissed like diamondbacks in the grass and crackled in the gutters of the trailer park.

Saat itu aku berusia sepuluh tahun. Kami sedang duduk di atas tangga rumah bergerak kami di Florida. Saat itu sore hari pada musim panas yang lengket dan hujan turun mendesis seperti ular diamondback di rerumputan dan berderik di selokan tempat parkir trailer.

“And her family?”

“Dan keluarganya?”

“Dead. Her great-great-great grandfather, the exiled King Bahadur Shah Zafar, died in Rangoon and is buried there. Burmese Muslims make pilgrimages to his shrine and honor him as a saint.”

“Sudah meninggal. Kakek buyut-buyut-buyutnya, Raja Bahadur Shah Zafar yang diasingkan, meninggal di Rangoon dan dikubur di sana. Kaum muslim Burma berziarah ke kuburannya dan menghormatinya sebagai orang suci.”

“Why was he buried there? Why couldn’t he go home?”’

“Mengapa ia dikubur di sana? Mengapa ia tidak pulang ke rumahnya?”

“He had no home anymore.”

“Ia tidak punya rumah lagi.”

For a while I stared, then surprised both him and myself by bursting into tears. Bewildered, Gramps took me in his arms and whispered comforting things, and gradually I quieted, letting his voice and the rain sounds lull me to sleep, the loamy smell of him and grass and damp earth becoming one in my sniffling nostrils.

Aku tercenung sejenak dan mengejutkan kami berdua saat tiba-tiba menangis. Kebingungan, kakek merangkulku dan membisikkan kata-kata untuk menenangkanku. Beberapa saat kemudian aku terdiam, membiarkan suaranya dan suara hujan membuatku tertidur, bau tubuh kakek dan rumput dan tanah basah bercampur dalam penciumanku.

I remember the night Gramps told me the rest of the story. I was twelve or thirteen. We were at this desi party in Windermere thrown by Baba’s friend Hanif Uncle, a posh affair with Italian leather sofas, crystal cutlery, and marble-topped tables. Someone broached a discussion about the pauper princess. Another person guffawed. The Mughal princess was an urban legend, this aunty said. Yes, yes, she too had heard stories about this so-called princess, but they were a hoax. The descendants of the Mughals left India and Pakistan decades ago. They are settled in London and Paris and Manhattan now, living postcolonial, extravagant lives after selling their estates in their native land.

Aku ingat malam ketika kakek menceritakan kelanjutan kisah itu. Saat itu aku berusia dua belas atau tiga belas tahun. Kami sedang menghadiri pesta orang-orang yang satu negara dengan kami di Windermere yang diadakan oleh teman Baba, Paman Hanif. Sebuah pesta elit dengan sofa kulit dari Itali, perlengkapan makan kristal, dan meja-meja berlapis pualam. Seseorang memulai diskusi tentang sang putri melarat. Seorang lagi terbahak-bahak. Putri kerajaan Mughal adalah mitos modern, tambah bibi ini. Ya, ya, ia juga mendengar beberapa cerita tentang putri yang terkenal ini, namun semuanya bohong. Keturunan kerajaan Mughal meninggalkan India dan Pakistan beberapa dekade lampau. Saat ini mereka tinggal di London dan Paris dan Manhattan dengan kehidupan pascakolonial yang boros setelah menjual lahan yasan di tanah kelahiran mereka.

Gramps disagreed vehemently. Not only was the princess real, she had given him free tea. She had told him stories of her forebears.

Kakek dengan tegas tidak menyetujui bibi itu. Tidak hanya nyata, sang putri juga pernah memberinya teh. Ia juga pernah bercerita kepada kakek tentang para leluhurnya dahulu.

The desi aunty laughed. “Senility is known to create stories,” she said, tapping her manicured fingers on her wineglass.

Bibi itu tergelak. “Pikun membuat seseorang jadi suka mengarang cerita,” ujarnya sambil mengetukkan jari-jari bermanikur ke gelas anggurnya.

Gramps bristled. A long heated argument followed and we ended up leaving the party early.

Kakek geram. Perdebatan panjang kemudian terjadi dan akhirnya kami harus meninggalkan pesta lebih awal.

“Rafiq, tell your father to calm down,” Hanif Uncle said to my baba at the door. “He takes things too seriously.”

“Rafiq, bilang kepada ayahmu untuk tenang,” ucap Paman Hanif kepada ayahku di depan pintu. “Ia terlalu serius menghadapi sesuatu.”

“He might be old and set in his ways, Doctor sahib,” Baba said, “but he’s sharp as a tack. Pardon my boldness but some of your friends in there . . .” Without looking at Hanif Uncle, Baba waved a palm at the open door from which blue light and Bollywood music spilled onto the driveway.

“Mungkin ia memang sudah tua dan kaku, Temanku,” jawab Baba, “tetapi pikirannya setajam paku. Maaf atas kejujuranku, namun beberapa temanmu di sana…” Tanpa memandang Paman Hanif, Baba melambaikan telapak tangan ke pintu terbuka yang menjadi sumber cahaya biru dan musik Bollywood berhamburan ke jalan di depan rumah.

Hanif Uncle smiled. He was a gentle and quiet man who sometimes invited us over to his fancy parties where rich expatriates from the Indian subcontinent opined about politics, stocks, cricket, religious fundamentalism, and their successful Ivy League–attending progeny. The shyer the man the louder his feasts, Gramps was fond of saying.

Paman Hanif tersenyum. Dia pria lembut dan pendiam yang terkadang mengundang kami ke pesta-pestanya yang dihadiri para ekspatriat kaya dari subkontinen India yang berdiskusi tentang politik, saham, kriket, fundamentalisme agama, dan anak-anak mereka, lulusan Ivy League yang sukses. Makin pemalu seseorang, makin ramai pestanya, kakek gemar mengatakan hal itu.

“They’re a piece of work all right,” Hanif Uncle said. “Listen, bring your family over some weekend. I’d love to listen to that Mughal girl’s story.”

“Terkadang mereka sulit diajak bergaul,” kata Paman Hanif *. “Dengar, bawa keluargamu ke sini di akhir pekan. Aku ingin mendengar cerita gadis Mughal itu.”

“Sure, Doctor sahib. Thank you.”

“Tentu saja, Temanku. Terima kasih.”

The three of us squatted into our listing truck and Baba yanked the gearshift forward, beginning the drive home.

Kami bertiga berjongkok ke dalam truk kami. Baba menyentak persneling ke depan dan mulai mengendarai truk, membawa kami pulang.

“Abba-ji,” he said to Gramps. “You need to rein in your temper. You can’t pick a fight with these people. The doctor’s been very kind to me, but word of mouth’s how I get work and it’s exactly how I can lose it.”

“Abba-ji,” katanya kepada kakek. “Abba harus mengendalikan emosi. Abba tidak boleh berkelahi dengan orang-orang ini. Dokter Hanif sudah sangat baik padaku. Namun aku mendapatkan pekerjaan karena berita dari mulut ke mulut, dan aku juga bisa kehilangan pekerjaanku karenanya.”

“But that woman is wrong, Rafiq,” Gramps protested. “What she’s heard are rumors. I told them the truth. I lived in the time of the pauper princess. I lived through the horrors of the eucalyptus jinn.”

“Tetapi wanita itu keliru, Rafiq,” protes kakek. “Semua yang pernah didengarnya adalah rumor. Aku mengatakan kebenaran kepada mereka. Aku hidup di jaman sang putri melarat. Aku hidup dengan ketakutan akan jin pohon eukaliptus.”

“Abba-ji, listen to what you’re saying! Please, I beg you, keep these stories to yourself. Last thing I want is people whispering the handyman has a crazy, quarrelsome father.” Baba wiped his forehead and rubbed his perpetually blistered thumb and index finger together.

“Abba-ji, dengarlah yang engkau katakan itu! Aku mohon kepadamu, simpan cerita ini untuk dirimu sendiri. Hal terakhir yang ingin aku dengar adalah bisikan orang-orang bahwa seorang buruh serabutan punya ayah yang gila dan suka bertengkar.” Baba menyeka dahi dan menggosok jempol dan jari telunjuknya yang terus melepuh bersamaan.

Gramps stared at him, then whipped his face to the window and began to chew a candy wrapper (he was diabetic and wasn’t allowed sweets). We sat in hot, thorny silence the rest of the ride and when we got home Gramps marched straight to his room like a prisoner returning to his cell.

Kakek melotot padanya, kemudian mengalihkan wajah ke arah jendela dan mulai mengunyah bungkus permen (kakek menderita diabetes dan tidak diperkenankan makan makanan manis). Kami duduk di keheningan yang menjengkelkan sepanjang sisa perjalanan kami dan begitu sampai di rumah, kakek bergegas ke kamarnya seperti tahanan yang kembali ke selnya.

I followed him and plopped on his bed.

Aku mengikuti kakek dan menghempaskan tubuhku di atas tempat tidurnya.

“Tell me about the princess and the jinn,” I said in Urdu.

“Ceritakan kepadaku tentang sang putri dan jin,” pintaku dalam bahasa Urdu.

Gramps grunted out of his compression stockings and kneaded his legs. They occasionally swelled with fluid. He needed water pills but they made him incontinent and smell like piss and he hated them. “The last time I told you her story you started crying. I don’t want your parents yelling at me. Especially tonight.”

Kakek menggerutui stoking kompresinya dan memijat kakinya. Kaki kakek biasanya membengkak oleh cairan. Ia membutuhkan pil diuretik, tetapi obat itu membuatnya mengompol dan berbau air kencing dan ia membenci itu. “Terakhir kali aku menceritakannya, kau menangis. Aku tidak ingin ayah dan ibumu meneriakiku. Terutama malam ini.”

“Oh, come on, they don’t yell at you. Plus I won’t tell them. Look, Gramps, think about it this way: I could write a story in my school paper about the princess. This could be my junior project.” I snuggled into his bedsheets. They smelled of sweat and medicine, but I didn’t mind.

“Oh, ayolah, mereka tidak akan meneriakimu. Di tambah lagi, aku tidak akan bercerita pada mereka. Lihat, ‘Kek, coba pikirkan seperti ini: Aku bisa menulis cerita sang putri di koran sekolahku. Ini bisa menjadi proyek tahun keduaku.” Aku meringkuk ke alas tempat tidurnya. Benda itu beraroma keringat dan obat-obatan, tetapi aku tidak keberatan.

“All right, but if your mother comes in here, complaining—”

“Baiklah, tetapi kalau ibumu datang ke sini, mengomel—”

“She won’t.”

“Tidak akan.”

He arched his back and shuffled to the armchair by the window. It was ten at night. Cicadas chirped their intermittent static outside, but I doubt Gramps heard them. He wore hearing aids and the ones we could afford crackled in his ears, so he refused to wear them at home.

Kakek meregangkan punggungnya dan beringsut ke sofa dekat jendela. Saat itu jam sepuluh malam. Jangkrik mengerik di luar, tetapi aku ragu kakek bisa mendengarnya. Ia menggunakan alat bantu pendengaran dan alat yang mampu kami beli menggerisik di telinganya, jadi ia menolak memakainya di rumah.

Gramps opened his mouth, pinched the lower denture, and rocked it. Back and forth, back and forth. Loosening it from the socket. Pop! He removed the upper one similarly and dropped both in a bowl of warm water on the table by the armchair.

Kakek membuka mulutnya, mencopot gigi palsu bagian bawah, dan mengguncangnya. Ke depan, ke belakang. Ke depan, ke belakang, melonggarkannya. Ia membuka bagian atas dengan cara yang sama dan menjatuhkannya ke semangkuk air hangat di atas meja di dekat sofa.

I slid off the bed. I went to him and sat on the floor by his spidery, white-haired feet. “Can you tell me the story, Gramps?”

Aku turun dari tempat tidur. Kudekati kakek dan duduk di atas lantai di samping kaki cakar ayamnya yang berbulu putih. “Bisakah engkau ceritakan kepadaku, Kakek?”

Night stole in through the window blinds and settled around us, soft and warm. Gramps curled his toes and pressed them against the wooden leg of his armchair. His eyes drifted to the painting hanging above the door, a picture of a young woman turned ageless by the artist’s hand. Soft muddy eyes, a knowing smile, an orange dopatta framing her black hair. She sat on a brilliantly colored rug and held a silver goblet in an outstretched hand, as if offering it to the viewer.

Malam mencuri masuk melewati tirai jendela dan menetap di sekitar kami, lembut dan hangat. Kakek mengerukutkan telapak kakiknya dan menekannya ke sandaran kaki kayu di sofanya. Pandangannya melayang ke lukisan yang tergantung di atas pintu, gambar seorang wanita muda yang menjadi awet muda di tangan si pelukis. Bola mata keruh yang lembut, senyum penuh rasa tahu, sebuah dopatta jingga membingkai rambut hitamnya. Wanita itu duduk di atas permadani cerah dan mengulurkan tangannya yang memegang piala perak, seperti menawarkannya pada penonton.

The painting had hung in Gramps’s room for so long I’d stopped seeing it. When I was younger I’d once asked him if the woman was Grandma, and he’d looked at me. Grandma died when Baba was young, he said.

Lukisan itu telah tergantung di kamar kakek sekian lama sampai aku berhenti memerhatikannya. Ketika masih kecil, aku pernah bertanya kepada kakek jika wanita itu adalah nenek, dan kakek menatapku. Nenek meninggal ketika Baba masih muda, jawabnya.

The cicadas burst into an electric row and I rapped the floorboards with my knuckles, fascinated by how I could keep time with their piping.

Jangkrik-jangkrik bersemarak menjadi barisan listrik dan aku mengetukkan buku jariku pada papan lantai, terpesona karena aku bisa mengikuti irama suara nyaring mereka.

“I bet the pauper princess,” said Gramps quietly, “would be happy to have her story told.”

“Aku bertaruh sang putri melarat,” gumam kakek, “akan senang jika kisahnya diceritakan.”

“Yes.”

“Ya.”

“She would’ve wanted everyone to know how the greatest dynasty in history came to a ruinous end.”

“Ia akan menginginkan semua orang mengetahui bagaimana dinasti terhebat dalam sejarah menjadi punah.”

“Yes.”

“Ya.”

Gramps scooped up a two-sided brush and a bottle of cleaning solution from the table. Carefully, he began to brush his dentures. As he scrubbed, he talked, his deep-set watery eyes slowly brightening until it seemed he glowed with memory. I listened, and at one point Mama came to the door, peered in, and whispered something we both ignored. It was Saturday night so she left us alone, and Gramps and I sat there for the longest time I would ever spend with him.

Kakek meraup sikat dua sisi dan sebotol cairan pembersih dari meja. Dengan hati-hati, ia mulai membersihkan gigi palsunya. Saat ia menyikat benda itu, ia berbicara, mata cekung berairnya perlahan bercahaya sehingga ia terlihat berpijar karena kenangan. Aku mendengarkannya, dan Mama datang, mengintip dari pintu, membisikkan sesuatu yang tidak kami acuhkan. Waktu itu malam minggu, jadi Mama meninggalkan kami berdua. Kakek dan aku duduk di sana untuk waktu terlama yang pernah kuhabiskan bersamanya.

This is how, that night, my gramps ended up telling me the story of the Pauper Princess and the Eucalyptus Jinn.

Inilah saatnya, malam itu, kakek akhirnya menceritakan kepadaku kisah Sang Putri Melarat dan Jin Pohon Eukaliptus.

Bersambung.

*Masih bingung bagaimana menerjemahkan “a piece of work all right” :/ Dari sumber ini dikatakan bahwa a piece of work adalah untuk mengekspresikan seseorang yang kadang menyenangkan, tapi sukar untuk diajak bergaul sehari-hari.

Diposkan pada Cerpen, Terjemahan

(terjemahan) The Archipelago oleh AC Tillyer Bagian 1

(from Greeks) ἄρχι- – arkhi- (“chief”) and πέλαγος – pélagos (“sea”) = a chain of island = gugusan kepulauan


https://i2.wp.com/www.totemtribe.com/static/attachments-vb/7-tt-shark-archipelago-map.jpg
Archipelago. Sumber: http://www.totemtribe.com/static/attachments-vb/7-tt-shark-archipelago-map.jpg

Below is a nonprofit Indonesian translation of The Archipelago, a short story by AC Tillyer. The original version can be found in this site as the source of short stories that can be accessed for free.


In the remote southern seas there is a cluster of islands. The weather is fair, the land is fertile and the ocean is rich with fish. Each island is inhabited by a different race of people. Although physically they look alike, you can tell them apart by their styles of dress, their distinctive dialects and even their most casual gestures. A cursory tour of the archipelago reveals that each island has its own unique form of architecture. If there is any similarity between them, it is that each race builds in a manner that is stubbornly at odds with the immediate environment. On rocky hillsides there are wooden huts and in wooded valleys, towns of brick. Arid uplands are irrigated and planted with leafy gardens, whereas, on fertile plains, the parks are paved with stone. On windswept outposts people live in tents but in the most sheltered regions they have stout, resilient cottages.

       Di laut selatan nan terpencil, terdapat sebuah gugusan kepulauan. Cuacanya cerah, tanahnya subur, dan lautnya kaya ikan. Setiap pulau dihuni orang-orang dengan ras berbeda. Meskipun secara fisik mereka terlihat sama, kau bisa membedakan mereka berdasarkan gaya pakaian, dialek khas, bahkan gerak tubuh paling biasa. Perjalanan sepintas lalu di kepulauan ini menunjukkan setiap pulau memiliki arsitektur unik tersendiri. Jika ada persamaan di antara mereka, hal itu berasal dari setiap ras yang dengan keras kepalanya mendirikan bangunan yang bertentangan dengan lingkungan sekitar. Ada pondok-pondok kayu di atas lereng bukit berbatu dan kota dari tumpukan batu bata di dalam lembah berhutan. Dataran tinggi gersang dialiri air dan ditanami dengan tanaman rimbun, sedangkan di atas lahan subur, taman-tamannya dilapisi dengan batu. Di wilayah pantai yang berangin, orang-orang hidup di dalam tenda. Namun di sebagian besar daerah terlindungi, mereka mendirikan pondok-pondok bayak berpegas.

     Despite their differences, the islanders coexist peacefully. There is rivalry over certain fishing waters and sporting prowess but it rarely amounts to more than a few heated exchanges. Distances between the islands are not great and the sea is calm but people prefer to stick with their own kind and mixed marriages are rare. For the most part, the only contact between the different races is for trading purposes.

      Di balik semua perbedaan itu, semua penghuni pulau hidup berdampingan dengan damai. Memang ada persaingan memperebutkan daerah pemancingan tertentu dan lomba kecakapan, tetapi biasanya hasilnya tak lebih dari beberapa aksi saling memanasi. Jarak antarpulau tidak terlalu besar dan lautnya tenang, namun penduduk lebih memilih tinggal dengan ras mereka sendiri dan pernikahan campuran jarang terjadi. Sebagian besar hubungan yang terjadi antara ras berbeda adalah untuk tujuan perdagangan.

     At the centre of the archipelago, perhaps in the most favoured spot of all, lies an island that has been deserted for many generations. There is no obvious reason for its abandonment; it has good soil, plenty of freshwater, two natural ports and a climate no more or less suitable to the raising of crops than its neighbour’s. But no birds circle overhead and no lights come on in the evenings.

       Di tengah-tengah gugusan kepulauan, konon terletak di posisi paling favorit, terbentang sebuah pulau yang telah ditinggalkan selama beberapa generasi. Tidak ada alasan jelas mengenai penelantarannya; pulau itu memiliki tanah subur, air segar melimpah, dua pelabuhan alami, dan iklim yang sesuai untuk bercocok tanam dibandingkan dengan pulau tetangga. Tetapi tidak ada satupun burung terbang mengitar di udara dan lampu yang hidup di malam hari.

     It has not always been like this. Long ago, it was inhabited by farmers and fishermen much like everywhere else in the archipelago. They sailed brightly painted boats and were known for being excellent divers. Their beaches were rarely empty and even at night there were often fires in the dunes and people in the water, enjoying a swim. An offshore beacon on the north side, which warned sailors of a treacherous ridge of rocks, was tended by the islanders, who never let it go out. Goats were kept on the upland slopes, their bells tinkling as they grazed. The people were fond of seafood and sun- bathing, were enthusiastic winemakers, reluctant housekeepers and notoriously bad at ball games. They married early, died late and generally kept themselves to themselves. Things could have gone on like this forever, but everything changed when they decided to dynamite the cliffs and began building the first wall.

       Keadaan di sana tidak selalu seperti ini. Dahulu kala, pulau ini dihuni oleh para petani dan nelayan seperti tempat lainnya di kepulauan. Mereka melayarkan perahu-perahu bercat cerah dan dikenal sebagai penyelam handal. Pantai-pantainya jarang sekali kosong dan bahkan di malam hari sering terdapat api unggun di bukit berpasir dan  orang-orang yang berenang di air. Sebuah mercusuar lepas pantai di bagian utara sebagai peringatan bagi pelaut akan gundukan batu berbahaya, dijaga oleh penduduk pulau yang tak pernah melepaskannya. Kambing-kambing dipelihara di lereng-lereng dataran tinggi, bel-bel mereka berdentang saat digembalakan. Masyarakatnya menyukai makanan laut dan berjemur. Mereka adalah pembuat anggur yang antusias, pengurus rumah tangga yang penuh keraguan, dan terkenal tidak pandai bermain bola. Mereka menikah dini, mati di usia tua, dan umumnya lebih sering menyendiri. Semua itu bisa terjadi selamanya, namun segalanya berubah saat mereka memutuskan mengebom tebing-tebing dengan dinamit dan mulai membangun dinding pertama.

Bersambung.

Diposkan pada Terjemahan

(terjemahan) Kingmaker oleh Lindsay Smith

Tabik!

Kali ini aku mengambil beberapa paragraf dari sebuah cerpen bergenre fantasi dari Tor.com. Situs web ini berisi cerpen kontemporer dari berbagai penulis di dunia dengan pilihan genre dan subgenre yang variatif. Betapa bahagianya saat menemukan situs ini~~

Below is a nonprofit Indonesia translation of some parts of Kingmaker, a short story by Lindsay Smith. The original can be found on this site.


Synarius heaved a sigh, but his second lieutenant, Vera noticed, stiffened and stood straighter. Interesting. What was his name again? That’s right, Synarius hadn’t introduced him. Even more interesting. “I assume you’re talking about the Destroyers,” Synarius said.

Synarius menghela napas, tetapi letnan keduanya, Vera memperhatikan, membeku dan berdiri lebih tegak. Menarik. Siapa namanya tadi? Benar, Synarius belum memperkenalkan pria itu. Ini lebih menarik lagi. “Aku berasumsi kau sedang membicarakan Kaum Penghancur,” ujar Synarius.

“The Destroyers. Yes, that was it,” Vera said. “The way I hear it, they’ve been targeting the gangleaders and the corrupt aristocrats who work with them. Trying to fight for justice for the lowest tunnelers, to protect them from exploitation.”

“Kaum Penghancur. Ya, itu dia,” jawab Vera. “Dari kabar yang aku dengar, mereka telah mengincar para pemimpin gerombolan dan aristokrat korup yang bekerja dengan mereka. Mereka mencoba berjuang demi keadilan untuk penghuni terowongan terendah, melindungi mereka dari eksploitasi.”

“Corrupt aristocrats. Like your client, you mean.” Synarius’s tone turned sharp.

“Aristokrat korup. Seperti klienmu, maksudmu. ” Sahut Synarius dengan suara meninggi.

Vera made herself swallow hard. “My client only wishes to know whether the Destroyers are really the threat we’ve heard they are. And if they are, we’d like your assurance that they won’t cause any… problems for this deal. In fact, my client is rather interested in meeting with one of their representatives.”

Vera memaksa diri menelan ludah. “Klienku hanya ingin mengetahui apakah Kaum Penghancur memang sebuah ancaman seperti yang dikabarkan. Dan jika memang benar, kami butuh jaminan darimu bahwa mereka tidak akan membuat…masalah mengenai hal ini. Kenyataannya, klienku lebih tertarik untuk bertemu dengan salah satu dari mereka.”

Vera took care not to look directly at the second lieutenant, but she watched him from the corner of her eye. Was that a bead of sweat trickling down his temple? A shifting tightness in his jaw? He knew more about the Destroyers than he wanted to admit, she was sure of it. But he wasn’t about to admit it in front of a Stargazers lieutenant.

Vera berusaha tidak menatap letnan kedua, namun ia melihat pria itu dari sudut matanya. Tetesan keringatkah yang turun dari pelipisnya? rahang yang semakin mengeras? Ia mengetahui tentang Kaum Penghancur lebih dari yang ia akui, Vera yakin. Tapi pria itu tidak akan mengakuinya di depan seorang letnan Pengamat Bintang.

Because the Destroyers wanted to take down the gangs that kept the tunnelers enslaved, or as good as. And the Stargazers were the cruelest gang of them all.

Karena Kaum Penghancur ingin menjatuhkan gerombolan-gerombolan yang selalu memperbudak penghuni terowongan, atau tindakan serupa lainnya. Dan Pengamat Bintang adalah gerombolan terkejam di antara mereka semua.

“The Destroyers never have been and never will be an issue for the Stargazers,” Synarius said thinly. “We do not allow dissent. Our tunnelers know their place. They know that were it not for us, their lives would be even more miserable, with no one to find them work and pay them and keep them from far greater predators within Barstadt’s underground.”

“Kaum Penghancur belum pernah dan tidak akan pernah menjadi masalah bagi Pengamat Bintang,” Synarius berkata lirih. “Kami tidak memperbolehkan adanya perselisihan. Penghuni terowongan kami tahu tempat mereka. Mereka paham jika bukan karena kami, mereka akan hidup lebih sengsara, tak ada yang akan mempekerjakan mereka dan membayar mereka dan menjaga mereka dari pemangsa yang lebih ganas di bawah tanah Barstadt.”